Perempuan Sendiri

Wednesday, April 17, 2024

Hari ini banyak perempuan yang direndahkan martabat nya karena belum menikah. Jarang sekali ada orang yang mau 'sekadar melihat sisi lain' dari mereka yang bersusah payah menjaga marwah dan kesuciannya dintengah kesendiriannya.

Padahal mereka kokoh mempertahankan prinsip ketaatan ditengah gempuran tawaran kemaksiatan.

Duka Panjang

Saturday, April 6, 2024

 


Kalau jurang rasa dari 'kepergiaan' hanyalah rasa sedih. Maka sungguh bebannya mungkin tak seberat ini.


Seorang alim pernah berkata, seorang anak perempuan yang belum menikah, masih ditanggung beban (dosanya) oleh sang ayah.


Orang alim lain pernah berkata,

Seharusnya ketika orang tua telah tiada menjadikan kita semakin taat. Semakin saleh ...


Duhai Allah, maka sungguh berat sekali tanggungan beliau...


-


Maka cukuplah alasan tersebut menjadi deretan kisah panjang pergumulan rasa sedih, bersalah, takut, juga tangis yang tak berkesudahan...


Duhai Allah, luaskan pengampunanmu

Ridhakan diri-Mu terhadapku 


Ramadan, 2024.

Jangan Jadi Perempuan Berprinsip, Repot!

Wednesday, March 27, 2024

Gue sedih ketika keperempuanan gue selalu dibentur-benturkan dengan banyak hal.

Misalnya, ketika gue belum menikah ada saja orang yang 'rebek' luar biasa seakan dunia dia hancur karena gue belum menikah. 
Lah, padahal gue sering menegaskan gue belum pengen nikah. Dan gue baik-baik saja.

Gue BUKAN GAK pengen nikah. Tapi BELUM. Dan di masa menanti ini, gue juga bukan nganggur, gabut dan main-main. Gue belajar, bekerja, dan sesekali upgrade diri. Entah ikut kelas, pengajian, dengerin kajian, atau bikin acara bareng temen-temen gue di kantin. Dan gue menggeluti itu dengan serius. 

Gue ini Insya Allah nggak tolol-tolol amat kok. 
Gue Insya Allah tahu kapasitas diri gue untuk menjemput jodoh terbaik gue dengan cara yang hormat. Bukan ditenteng-tenteng sembarangan, diobral seperti nggak punya harga diri. NGGAK! 

Gue memiliki prinsip ini pun bukan karena gue keras kepala tapi gue BELAJAR dan dengerin nasihat ustaz. 
Rezeki itu sudah ditentukan, tapi PROSES menjemputnya itu yang akan jadi nilai PAHALA atau DOSA.
CONTOH: Orang kerja/enggak, rezeki nya pasti akan sama. Udah ada takarannya. TAPI kalau dia bekerja dengan jalan halal itu akan dapat pahala. Kalau dia kerja dengan cara haram dia akan dapat dosa. 
Sama hal nya dengan jodoh 
Jodoh itu udah ditentuin. Tapi proses menjemputnya ini yang akan DIHISAB. 

Lah kalo gue nggak mau makek cara yang gak diridhai Tuhan gue, ya gue gak salah dong. 

Gue ngga gila hormat, tapi gue sangat benci direndahkan. Apalagi gue adalah Muslimah 
Sepanjang pengetahuan gue, di dalam agama yang gue anut (gue sih Islam kalo lo Islam KTP gue gatau) agama gue ngajarin untuk bersikap BAIK, SANTUN DAN LEMBUT pada perempuan.
Nggak ada ceritanya tuh orang Islam merendahkan perempuan. 

Intinya,

Gue tahu mana orang yang bisa gue andalkan dan gue percaya untuk gue tanya perihal jodoh bahkan gue minta mencarikan jodoh untuk gue.

Gue pun nggak pernah tutup mata untuk terus refleksi, belajar, membenahi diri, menyiapkan diri dan berpikir sejauh mana gue siap menikah.

***

Seringkali gue dihadapkan dengan orang yang maha benar. Merasa bahwa jadi perempuan jangan terlalu kerja keras. Jangan terlalu karir banget 

Sayangnya, gue tidak terlahir dari rahim Nagita Slavina dan Raffi Ahmad. 
Gue nyari tambahan duit jajan sejak gue SMP dengan menulis di koran. 

Gue terbiasa kerja keras sejak gue remaja. Walau bukan pekerjaan yang berat seperti dagang kue keliling atau kerjaan buruh, tapi gue gapernah dibiasain sama ortu gue 'ngatung'. 
Bahkan sejak gue SD gue berusaha nambah duit jajan dan tabungan gue dari hasil lomba - lomba yang gue ikutin.

Gue harus kerja keras karena kalo gue males, lu mau nafkahin gue? 

***

Ada pula orang yang meremehkan impian gue buat sekolah lagi. Katanya umur gue ketuaan buat sekolah lagi. Buat apa? 

Ya buat diri gue lah.

1. Gue nggak mau jadi orang yang pemikirannya tumpul. 
2. Gue pengen punya kontribusi buat Islam walopun bentuk nya kecil.

***

Gue tahu prinsip gue ini sering dicap nggak lumrah. Dianggap ndakik-ndakik bagi sebagian orang, tapi gue nggak peduli. Karena apa yang gue pegang bukan sesuatu yang merugikan orang lain dan zalim pada orang lain.

Gue belum menikah karena gue belum berhasil menemukan jodoh gue, toh gue selama ini gapernah nutup diri. Simply karena emang belum ada yang dateng 

Gue bekerja karena gue kalo gak bekerja gue musti ngapain? Goler-goler dikasur? 
Gue bekerja untuk diri terus upgrade skill gue, gue berharap dengan dihantam beragam resiko dan masalah pekerjaan, gue bisa jadi 'berlian' suatu hari nanti

Gue pengen sekolah lagi karena gue masih merasa butuh untuk upgrade ilmu. Simply masih ada hal-hal yang pengen gue tahu dan gue mau mempelajarinya. 

-

Gue tegas pada prinsip gue karena prinsip ini yang bisa mengantarkan gue di titik ini.
Prinsip yang gue rasa bisa membuat gue bisa berani melawan stigma yang menyebalkan. 
Membuat gue cukup kokoh tidak terbawa arus maksiat (Aamin Insyaa Allah) 

Mungkin dampaknya gak seberapa, tapi mudah-mudahan kalau ada kebaikan di dalamnya Allah SWT hitung sebagai pahala.
 
Gue nggak sempurna, bisa jadi gue salah atau pikiran gue berubah seiring gue nambah pengetahuan dalam proses belajar.

Tapi 1 yang pasti, gue gak mau jadi orang yang terpontang-panting dalam mengarungi ombak kehidupan. Gue pengen jadi orang yang ajeg dalam hal-hal baik.

Kalopun belum sempurna, merendahkan orang lain jelas bukan pilihan gue. 

Menertawakan Cita-cita Masa Puber


Hari ini aku iseng googling namaku. Kemudian 'diingatkan' oleh beberapa fakta masa lalu yang ternyata masih nyisa di google :') HAHA.

 

Sejak kecil sampai SMA, aku punya cita-cita jadi dokter. Kalau diinget-inget sekarang sih ngakak ya. Tapi dulu, disaat aku benar-benar 'menghidupi' mimpi tersebut, keinginan itu sangat tulus. Aku benar-benar mengharapkannya. Bahkan mungkin keinginan tersebut adalah salah satu 'ambisi' ku yang paling tulus. Sekaligus salah satu kegagalan yang paling menyakitkan (saat aku masuk IPS yang itu artinya aku gak bisa jadi dokter).

Saat itu aku merasa begitu direndahkan oleh banyak orang. Dianggap "halu" bahkan dari kalangan guru sekalipun. Sebenarnya cukup lama aku bangkit menyembuhkan luka, terlebih aku juga mengalami kegagalan parahb setelahnya, nggak bisa masuk univeritas impian.

***

Dahulu ketika aku masih bercita-cita jadi dokter, aku nulis di blog dan mengikuti salah satu blogger mahasiswa FK yang sangat terkenal dikalangan blogger. Ini linknya. Yaampun, dulu setiap blog ini posting tulisan, nggak ada satupun yang kulewatkan buat dibaca. Aku pun ingat sebelum nama jasputih kalau nggak salah mereka menggunakan nama blog lain, cadaver kalo gak salah. 

Salah satu bukti betapa aku sangat menginginkan jadi dokter adalah screenshoot di atas. Aku bahkan sama sekali nggak inget pernah komen di postingan tersebut. Yaa kalau sekarang mah bisa ngakak konyol yah. Tapi kalau dulu, mungkin itu adalah pertanyaan polos yang diajukan anak 16 tahun yang merasa "patah" dengan cita-citanya yang tidak akan pernah terwujud.

Aku nulis blog tu udah lama banget, sejak SMP. Kegalauan semua hal aku tulis disini. Termasuk kegagalanku waktu gak bisa masuk kedokteran. HAHA. Sayang, dulu aku hapus-hapusin karena ngerasa malu tulisanku jelek. Agak nyesel sih, padahal ya nggak papa juga malu-maluin, toh semuanya berproses. 

 ***

Ah, waktu cepat sekali berlalu. Aku ingat dulu ada seorang kakak tingkat yang hatinya sangat BAIK. Ia menyemangatiku, memberikan aku kata-kata motivasi untuk nggak menyerah-yang padahal jelas-jelas sudah jalan buntu-saat itu. 

Sekarang semuanya berjalan dengan lebih baik, lebih mudah dan tentu saja menyenangkan. Berkuliah di jurusan komunikasi membuatku bersyukur tiada henti. Bertemu dengan teman-teman yang beragam, mendapat wawasan dan sudut pandang baru yang luar biasa. Akupun tak pernah membayangkan bagaimana jika aku kuliah kedokteran, aku pasti tidak akan sanggup atau bahkan menyerah di tengah jalan. Allah memang perencana terbaik. Kegagalan, kepahitan yang ku harus ku telan di masa muda, membuat aku jadi pribadi hari ini yang lebih meghargai perjuangan.

Tidak ada yang berubah dariku. Masih ambisius, masih keras kepala. HAHA

Namun satu hal yang pasti. Dalam proses "mencerna" tangga kegagalan semuanya TIDAK MUDAH. Ada nangis, ada sedih, kecewa, marah, menghardik, mogok, dll. 

Karena itulah jika hari ini aku dan kamu bertemu dengan orang yang terpuruk, harap cita nya sedang kusut, cukupilah dengan kata-kata yang baik. Support mereka dengan DOA. Nggak perlu meremehkan, menghardik, apalagi menyuruh-nyuruh untuk "melupakan."

Esok lusa, kedewasaan, pengalaman, ilmu, lingkungan dan waktu pasti akan membuat seseorang 'bertumbuh'. Entah melupakan, bangkit, menerima, atau belajar sesuatu dari kegagalannya. 

Aku pun hari ini bisa tertawa, bahkan mensyukurinya, juga melalui proses pendewasaan yang cukup lama dan berliku. 

Hargailah setiap proses manusia 'bertumbuh' terhadap takdir Tuhan-Nya.

28: Sebuah Perjalanan Memperbaiki Hubungan dengan Allah

Sunday, March 24, 2024

Berkali-kali Allah mengujiku.

Dengan beragam cobaan yang -kadang- dengan setengah terengah aku mengenyitkan dahi, 'Ya Allah sakit sekali'

Seperti hari ini misalnya, di hari ulang tahunku ke - 28. 

Setelah menjalani operasi ambeyen yang sangat sangat sangat sangat SAKIT, aku pikir aku akan segera sembuh. Nyatanya semua meleset dari prediksi. Sampai hari ini aku masih merasakan nyeri. 

Padahal, sebelum akhirnya memutuskan operasi, aku telah melakukan riset dari A-Z. Mulai dari biaya, masa penyembuhan, teknik operasi, SEMUANYA aku perhitungkan dengan matang dan se jeli mungkin. Saat itu aku yakin, 2 minggu pasti sembuh.

Ternyata semua prediksiku meleset. Semua target ibadah ramadan ku tercerai berai.

Aku tak kuat berpuasa. Dubur terasa nyeri teramat sangat, bahkan aku kesulitan tidur berberapa hari. 

Sedih aku tak bisa berpuasa, sedih tak bisa melaksanakan salat dengan nyaman, dhuha ku bolong, tahajud apalagi.

Belum lagi kerjaan yang ditinggalkan ternyata menumpuk begitu banyak. 

2 minggu lebih Allah cabut nikmatku. 

Keberanian operasi saja, ternyata tak cukup. Dibutuhkan ekstra sabar dalam masa penyembuhan dan pemulihan.

Aku mulai kelelahan.

Ditengah rasa sakit hari ini, aku mencoba refleksi dan menuangkannya dalam tulisan. Mudah-mudahan bait-bait yang ku susun bisa jadi penguat, peringan rasa sakit sekaligus pelipur lara di hati.  Dan yang paling penting, berkhusnuzon terhadap ketetapan-Nya. 

Dear Allah SWT

Ya Allah engkau tahu persis rasa sakit yang ku alami detik per detik setiap waktu berlalu. 

Sakit pasca operasi secara fisik, maupun sakit hati terhadap orang-orang yang menzalimiku di waktu yang bersamaan. 

Aku tidak marah Ya Allah, sungguh bila ini jalan yang harus kutebus untuk mengugurkan dosa-dosaku, jadikanlah aku ridha.

Jadikan sakitku adalah asbab engkau mengasihiku, asbab aku menjadi hamba yang lebih taat, lebih bertindak tanduk sesuai anjuran rasul-Mu, dan asbab datangnya banyak pintu kebaikan di kemudian hari.

Lembutkan hatiku Ya Allah

Lembutkanlah...

Ya Allah meski segelintir manusia menzalimiku, entah sadar atau tidak lisan mereka mengiris hatiku jangan jadikan aku seperti mereka. Gerakkan hati, lisan, tangan dan tubuhku untuk bergerak dalam hal-hal yang baik.

Berkahilah ibuku, saudaraku yang menemani, teman-temanku yang telah menjengukku, memberikan ku buah tangan dan support dari jarak jauh, dokter dan perawat yang membantuku operasi, perawat yang membantuku dengan ramah, teman-teman yang membantuku. 

Berkahilah dengan banyak kebaikan Ya Rabb karena aku tak akan sanggup membalas kebaikan mereka. Mudahkan urusan mereka, wujudkan hajat-hajat baik mereka, jadikan mereka istiqamah dalam kebaikan dan penuhi mereka dengan limpahan kasih sayang-Mu. 

Jadikan kebaikan dan ketulusan yang ada pada diri mereka juga melekat dalam diriku Ya Rabb. 

Cukupkan diriku atas-Mu Ya Rabb. Penuhi hatiku dengan-Mu. 

Ya Muqalibal Qulub Tsabit Qalbi Ala Dhinik. 

Doa ku tak muluk-muluk di hari miladku Yaa Rabb...

Aku ingin hidup tenang, sehat, merasa dekat dengan Allah, menjadi hamba yang engkau cintai dan merasa CUKUP dengan keridhaanmu. 

Jadikan aku orang baik yang dapat mendulang banyak kebaikan. Orang lapang yang mudah memetik hikmah dan mendoakan kebaikan orang lain 🤲❤️


TUBUH TUBUH YANG DIPERDEBATKAN

Thursday, February 29, 2024

Setelah cerita ini usai, ternyata masih ada kelanjutan kekepoan dari ibu-ibu yang bikin gedek-gedek kepala.

 "Mbak, maaf yaa ini bukan bermaksud gimana, cuma nanya. Mbak ada keinginan buat (ngecilin badan/diet) ngga? Soalnya maaf ya ini. Saya yang sudah bersuami saja tuh (njaga banget) kalau agak besar sedikit tu rasanya aduh gimana ya. Kan laki-laki tu..."

 Aku lupa persisnya basa-basi si ibu ini gimana. Tapi biar mudah mencerna, ibu ini tu seakan pengen bilang gini "Mbak gak pengen diet? Biar menarik gitu loh (di mata laki-laki). Saya aja yang udah nikah jaga badan buat suami saya"

Sebenernya, gue bisa aja menjawab dengan beragam variasi. Mulai dari jawaban tegas sampai kurangaj*r.

Kira-kira begini opsinya:

1. Opsi tegas, pakek dalil, biar nohok

"Betul bu, fisik perempuan itu menarik. Itulah kenapa syariat mewajibkan wanita menutup aurat secara sempurna. Kurus atau tidak setau saya kewajibannya sama bu. Tidak boleh diumbar "keindahan tubuh" kepada laki-laki, lebih-lebih yang bukan mahram. Saya juga nggak berminat dapet laki-laki yang otak sama kepala nya isinya body perempuan doang sih."

2. Opsi kurangaj*r, pedes, cocok untuk counter balik bac*tan tidak bermutu

"Ya wajar lah bu anda harus jaga. Kalau anda tubuhnya nggak menarik ya suami anda lirik sana sini lah. Lawong anda aja gak pernah PD sama tubuh anda sendiri. Lagian beda bandingan bu. Anda menjaga buat mahram, la kalo saya njaga buat biar dilihat orang, lah emang saya PSK? (Nauzubillah)"

Kalau gue kejam, mulut gue bisa-bisa aja lebih berbisa ngatain balik. Misalnya pakek penambahan kalimat 'tapi kalau kurus bukannya nggak menarik ya bu?' (kebetulan orang yang basa basi busuk sama w ni kurus) 

Note: Gue nggak ngatain orang kurus ya, please note in the context. Orang ini usil ke w, sehingga w pun jadi punya potensi "serang balik"

Gue nggak ada masalah ketika orang mengkritik gue supaya diet karena alasan kesehatan. Gue gpp banget, dan bersyukur orang-orang mau ngingetin. Walhasil sekarang aku jadi rajin renang tiap minggu. Perlahan memperbaiki pola hidup yang kemarinan rada berantakan.

Tapi akan sangat what the h*ll ketika tubuh gue dijadikan objek penilaian -kenapa gue belum menikah-

Dan perbandingan yang ibu-ibu bandingkan tuh NGGAK SEBANDING. 

Gini, kalau kamu udah menikah, kamu jaga tubuh untuk suami mu itu WAJAR. Ya emang harus gitu.

Tapi kalau kita (single), mempercantik tubuh supaya "terlihat menarik" di hadapan lakik lakok kurangmen gawean. Pakek parfume semerbak dengan niat memikat bukan mahram aja dosaaaaaa ><

Gue bukan kupu-kupu malam (Nauzubillah) yang memperindah tubuh hanya untuk disukai laki-laki. Gue nggak serendah itu.😡

Allah menyukai keindahan bener, kita musti jaga badan juga bener, tapi bukan buat nyenengin mata sembarangan laki-laki. Kalau kemenarikan hanya terletak pada tubuh, ngapain gue susah-susah pakek kerudung rapet? Panjang lagi kerudungnya. Ya mending gue pakek jilboob (Nauzubillah).

Toh ya, ni kalau mau ekstrim. Selera orang tuh beda-beda. Ada yang merasa kurus menarik, berisi menarik, gendut menarik. Subyektif banget.

Dahlah, urusan tubuh tu gausah dikomentarin amat-amat. Akan ada masanya anda, aku, dan kita semua tu keriput, tua, nggak menarik, apa yang mau disombongin?

Atau misal nih nanti habis lahiran *mohon maaf lebaran dikit kalau dikatain gendut, pasti gasuka juga kan?

Jadi ayolah buibu jaga mulut sama-sama. Jangan bermudah mudahan ngerendahin sesama perempuan. 

Fokus jadi perempuan yang bermartabat, akhlaq sama lisannya yang santun. Sambil tetep rajin merawat diri.

Lagian, gue nggak haus pujian dengan hal-hal yang sifatnya fisik. Soalnya tbh nih, kalo cuma sekadar pujian dari laki-laki, banyak yang muji w cantik. >< 

Cuma kan hidup ini nggak cuma muter-muter urusan fisik toh? Kita perempuan, isteri, ibu tuh penggerak bangsa lo. Kunci daripada kunci peradaban.

Mbok ya dimulai menjadi pribadi yang lebih baik, cerdas, pintar dan belajar.

Mau jadi ibu kayak ibu para imam, tapi jaga mulut susah banget. Fisik pula yang dikatain. Duh gasempet sih w.

Butuh 'Kerendahan Hati' untuk Memahami "Rezeki" dan "Ujian" Dalam Satu Waktu

Tuesday, February 27, 2024

Setiap Selasa, biasanya aku mengantar ibu pengajian di Masjid Mangkunegaran. Sembari menunggu, aku bekerja di cafe belakang masjid. 

Hari ini, sesaat sebelum berangkat aku pergi ke tukang tambal ban untuk isi angin (pompa). 

Sembari menunggu bapaknya siap-siap, tiba-tiba saja aku berfikir kira-kira begini "Bapaknya ini gimana ya caranya dapat uang? Masak iya sih setiap hari ada yang nambal ban?" "Eh tapi kan kalau ada orang yang nambal ban, itu artinya yang motornya bocor kena sial doang?" "Hmm berarti bapaknya ini bisa dapet rezeki, kalau ada orang lain dapat ujian?"

Tiba-tiba pikiran tidak masuk akalku berpikir begini "Eh apa jangan-jangan ini yang dinamakan bersama kesulitan, ada kemudahan?"

Saat bapak tambal ban kesulitan dapat uang, kalau ada yang nambal berarti itu rezeki buat bapaknya

Begitupun sebaliknya, ketika orang yang ban nya bocor kan dapet ujian tuh, tapi ketika bisa nambal (ketemu tukang tambal ban) artinya dia dapat solusi dari 'ujiannya'.

"Hmm ternyata Allah tuh membagi porsi rezeki bisa setepat ini ya, ibarat sebuah rantai makanan, ini rumit lho. Tapi Allah bisa mengatur semuanya secara pas." gumamku.

 *

Aku yang akhir-akhir ini lagi agak sedih karena berasa duit segini-gini aja, susah banget naikkin income sejenak bisa merendah.

Segala keruwetan pikiran soal "rezeki" bisa agak sedikit mereda habis lihat tukang tambal ban. 

Terus apa yang bisa disimpulin?

Rumus pemberian rezeki itu sangat rumit. Otak manusia sepintar apapun nggak akan pernah bisa menghitungnya, apalagi memprediksinya.

Kadang yang kita perlukan tu cuma kerendahan hati untuk memahaminya.

Ujian yang kita rasakan bisa jadi rezeki buat orang lain. Atau rezeki kita pun juga bisa jadi juga jadi rezeki buat orang lain.

Dan kalaupun apa yang kita mau memang belum kita dapatkan, mungkin masih ditunda, atau diganti dengan yang lain atau memang tidak diberi karena bukan yang terbaik buat kita. 

Kita cuma perlu sedikit merendah sambil melatih hati sama pikiran untuk berkhusnudzon sama Allah SWT. Yakin sama apa-apa yang Allah kasih untuk kita sudah dengan porsi terbaiknya.

Walau praktiknya kita sering terjungkal dan kepleset, mudah-mudahan bisa menjadi orang yang selalu -setidaknya- mengusahakan hal-hal yang baik.

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS