Kehilangan itu Menyambungkan yang Tak Nyambung

Monday, February 26, 2024


Setiap sedih atau putus asa aku selalu teringat bapak

Seolah-olah (kalau) bapak ada, masalahku tidak akan seberat ini

Seolah-olah (kalau) bapak ada, ujian-ujian rasanya -tidak mungkin- datang

Walau (kalaupun) bapak ada, mungkin aku juga tidak akan menceritakannya

Tapi itulah kedukaan.

Kehilangan saja sudah berat, belum ditambah cobaan-cobaan yang lain-lain.

Nggak nyambung memang

Tapi memang begitulah rasanya

Ujian apapun bentuknya, masalah apapun ragamnya ,se nggak nyampung bentuk rupanya, semua akan tiba-tiba tersambung dengan bapak :')

Seolah-olah (mungkin) Tuhan ingin berbicara:

"Tenang, ujian, masalah, cobaan ini ringan. Udah pernah dapat yang paling menyakitkan kan?"

Jenenge Kacek Yo Tetep Kacek

Monday, February 19, 2024

Hari ini aku membeli sebuah barang rumah tangga di sebuah warung kelontong. 

Aku sendiri seneng pergi ke warung ini karena ibu-ibu penjualnya rumpik heboh dan seru. 

Tapi hari ini aku agak mengkerutkan dahi karena menyadari "hmm warung ini kok mahal ya."

Seingatku harga barang yang ku cari di warung dekat rumahku cuma 12 ribu. Kok di warung ini 15 rebu ya. Sialan, batinku.

Kacek 2 ribu doang sih. Tapi disaat tanggal tua begini, ternyata dua ribu tetaplah berharga :')

Seketika aku langsung ingat bagaimana aku sering merundung ibuku yang memilih membeli barang di toko X ketimbang Y, hanya karena harganya lebih murah. Even kacek (read: selisih) nya nggak jauh-jauh amat, seribu dua ribu :')

"Halah kacek sewu bu," selorohku.

Seolah - olah 'yaudah seribu doang ngapain diribetin sih.' 

Padahal, ya kalo lagi kere mah tetap berasa ya bun :'

Kini w paham kenapa seorang mak-mak memiliki jiwa ketelitian luar biasa perkara duit. Selain karena kita bukan Nagita Slavina, jenenge kacek yo tetep kacek.

Rugi dan naif banget rasanya membeli barang yang lebih mahal padahal nilai/value barangnya literally SAMA PERSIS.

Ku yang masih single saja ternyata sering kembang kempis melihat selisih harga yang -walopun serebu- tetap 'lumayan' menurutku. Apalagi kalau udah berumah tangga yang itungannya musti memet.

Selain itu, sekarang w juga paham kenapa kenaikan harga telur, beras, minyak dan kebutuhan pokok selalu jadi topic paling ruame di beragam media.

10 ribu tak akan pernah jadi 10 ribu bila kurang seribu. Thats why, kenaikan barang pokok sering kali memukul banyak lapisan masyarakat

Kebutuhannya penting, tapi tidak semua orang siap dan mampu dengan lonjakan harga. Mau itu dari segi fisik (income/salary) atau pun mental. 

Karena (sekali lagi) kita bukan Sultan Andara atau cipung yang tidur saja menghasilkan uang :') 

Kesadaran ini akhirnya membuat w agak kapok sih kayanya merundung pasukan ibu-ibu yang penuh perhitungan. Gw kudu ngerem komentar 'halah gur kacek xxx' kepada para  ibu atau orang lain.

Karena kacek tetap lah kacek.

Ketika Pacaran (Juga) Jadi Urusan (Bahkan) Orang yang 'Baru Dikenal'

Suatu hari ada seorang ibu-ibu yang (kurang dari seminggu baru ku kenal) bertanya kepadaku "Mbak, tapi kamu pernah pacaran?" 

Saat itu aku agak kaget. Agak kagok juga ngejawabnya karena "Lah, ni orang baru kenal gue belum ada seminggu, PD banget tanya begini, di depan ibu gue pula."

Menurutku pertanyaan ini nggak sopan karena merupakan pertanyaan privat. Nih ya, sahabat gue Ayuk yang gue kenal sejak SMP aja GAPERNAH TANYA PERTANYAAN kek begitu. Atau temen-temen gue sejak gue SD atau even ibu gue aja, nggak pernah nanya pertanyaan ini. LOL.

Tapi yaudah saat itu aku jawab aja "Gapernah. Prefer mau langsung nikah aja" sebenarnya jawaban klise sampis ala kadarnya banget. Tapi karena masih agak tercengang gue juga nggak cukup berdaya buat jawab nge gas. ITU AJA MASIH DITANYA LAGI "Tapi pernah deket sama orang?" 

Hadeh. 

Gue memutuskan untuk nggak terlalu banyak interaksi dengan beliau. Karena menurut gue, gue nggak akan pernah cocok dan klop dengan tipe ibu-ibu muda begini.

Walopun tbh, gue sebenarnya bukan kali pertama dapat pertanyaan begini. Tapi sampai hari ini gue bingung, KENAPA ORANG KEPO BANGET SAMA GUE? Apakah gue terlihat TIDAK NORMAL? Apakah gue terlihat seperti (Nauzubillah) orang LGBT? -_-

Please, kasih gue alasan kenapa orang se kepo itu. Gue nggak paham.

Karena seingat gue, gue gapernah se kepo itu sama orang lain perkara dia pernah pacaran atau enggak, punya pacar atau nggak, udah kawin atau belum gue gada urusan. Jangankan sama orang yang baru gue kenal, ke temen dan sahabat-sahabatku aja gapernah. 

Disisi lain, makin bingung lagi ketika ada kakak tingkat kuliah gue yang pernah bilang "Aku bahkan gapercaya kamu punya 1 gebetan doang." LAHHHHHHH DIA PIKIR GUE PEMAIN APAYA -___-

Padahal gue juga kagak pernah aneh-aneh -_- berteman mah berteman aja biasa. 

 ***

Ada beberapa pertanyaan yang lumayan menggelayuti pikiran gue. Selain "Kenapa orang kepo sama gue".

"Trigger apa yang bikin orang nanya ini sama gue?"

"Kenapa mereka BERANI nanya kayak gitu ke gue? Apakah karena gue terlihat ramah dan lucu?"

"Tapi se lucu-lucunya gue, gue kayaknya termasuk orang yang cukup tegas dalam mengambil sikap, kenapa masih ada yang kepo ya? Emang mereka gada segen atau takut gue semprot?"

"Apa yang mereka pikirin tentang gue? Apa asumsi mereka sih?"

"Setelah mereka tahu, emangnya mau apa? Kepuasan apa yang mereka dapatkan?"

"Jadi sebenernya gue ini terlampau menarik, atau terlampau tidak menarik? Sampai urusan hubungan gue dikepoin?"

Pada akhirnya gue tetep nggak menemukan jawabannya, sekeras apapun gue merenung. Yang ada gue makin penasaran sendiri "kenapa ya?" 

Urusan pacaran ini sering banget gue dikepoin. Kenapa nggak ada yang kepo "Berminat S2 atau S3 nggak?" atau "Berencana meniti karirnya kemana?" siapa tahu ada yang mau kasih beasiswa gue sekolah lagi, atau ngasih gue kerjaan tambahan? Coba kalau ada, gak bakal gue tolak.

Lagian orang-orang yang kepo ini gue lihat-lihat gak bersumbangsih juga buat gue, gak bikin gue jadi ketemu jodoh gue, terus ngapain nanya-nanya sik ><

Im serious. i was curious about the answer. Please, let me know if you have the answer. 

But one thing i know. Marriage becomes a complex matters in the presence for all levels of society even if the marriage "hasn't happened yet"

Tak Adakah Ruang Aman untuk Mereka yang Berduka?

Sunday, February 18, 2024

Hari ini aku lagi scrolling tiktok dan tiba-tiba nemu kumpulan slideshow komentar entahlah dia siapa (tapi mari kita sebut saja netizen) yang membully seorang ibu yang selama ini aktif di kegiatan Kamisan di Jakarta.

Kita semua tahu aksi ini menuntut adanya 'tindak hukum' yang terjadi pada pelanggaran HAM berat. Salah satunya adalah ibu ini (yang ada dalam konten tersebut). 

Sejujurnya, buat orang yang cukup aware dengan aksi tersebut, wajah ibu ini udah nggak asing wira-wiri di jagad media.

Anaknya hilang akibat tragedi 1998. Sampai sekarang ibu ini sama sekali tidak tahu apakah anaknya masih hidup/tidak karena even mati, ia tak pernah tahu 'jasad' si anak ini. 

Well, aku tahu sebenernya nggak guna-guna amat membahas konten dari potongan tiktok macam begitu. Apalagi dikaitkan sama politik.

Tapi aku mau membahas karena sadar penuh, di luar sana, faktanya ada banyak orang yang masih buta memahami perasaan kedukaan orang lain. Nirempati, sulit mehargai perasaan orang yang kehilangan. 

Aku tidak akan membahas dari segi politik/hukum/tragedi yang terjadi. Bukan kapasitasku karena aku tidak sepintar itu untuk beropini macam Rocky Gerung atau Haris Azhar. 

Tapi mari kita lihat dari sisi humanis. Sisi kemanusiaan kita sebagai sesama MANUSIA. Terlepas anda tidak bersepakat dengan tendensi politik, orang yang kita sebut 'nenek' ini adalah seorang IBU yang kehilangan anaknya. 

Apa yang beliau lakukan -even anda tidak sepakat dengan caranya- adalah SATU DARI SEKIAN BANYAK USAHA yang coba beliau lakukan untuk mengurai perasaannya. 

Apakah kamu pernah membayangkan melihat anakmu, ayahmu, ibumu meninggal tanpa kamu bisa tahu jasadnya? 

Jangankan tahu jasadnya, entah mati atau hidup pun kamu tak tahu. Bertahun-tahun hidup dalam pengharapan yang cuma andai-andai. 

Tanpa merasa paling sok tahu dan bersedih atas ragam duka, tapi aku pun tak pernah melihat jasad bapakku saat meninggal. Kerandanya pun tidak. Hanya mobil ambulan keparat yang bisa kutatap dari jauh. 

Itu saja sudah pedih teramat sangat.

Sungguh, jika anda tak bersepakat dan beranggapan kedukaan ini adalah tunggangan politik, jangan pernah membuat mata hatimu buta bahwa tidak akan pernah mudah manusia melewati ujian kehilangan. 

Aku, jika mengingat bagaimana perlakuan bid*n sialan yang seharusnya bisa segera menolong bapakku tapi malah bersikap angkuh dan tidak profesional, sampai detik ini masih dendam kesumat. Mataku masih berair, dadaku sesak, isi kepalaku penuh dengan amarah. 

Tak jarang, ada perasaan menyesal mengapa aku diam dan mengalah. Seharusnya aku samperin orang tersebut dan ku obrak abrik meja kantornya. Setidaknya, rasa sakitku tersalurkan dengan baik. 

Perasaan, pikiran atau sikap seperti inilah yang kadang menggelayuti orang-orang yang kehilangan. Dan setiap penyintas, memiliki 'ceritanya' sendiri.

Begitupun dengan ibu tersebut. Orang yang berdiri dengan rambut memutih tersebut, hanyalah seorang ibu yang seharusnya perasaan kehilangannya kita validasi bersama sebagai sesama manusia. Apa yang beliau lakukan adalah efek dari hantaman perasaan sakit dari kehilangan.

Terlepas apapun kalian memandangnya dalam kaca mata politik, perasaan duka tak pernah berbohong.

Untuk jari-jari, mata-mata, lisan-lisan yang saat ini -kebetulan- masih penuh kesempurnaan, sulitkah untuk sekadar menahan dari berkata buruk?  

Tak adakah ruang aman bagi mereka yang kehilangan hanya untuk sekadar dihargai perasaannya? 

Berkali-kali aku berucap dan menulis.

Jangan pernah meremehkan kedukaan hingga saat giliranmu tiba, barulah kamu akan mengerti betapa menyakitkannya peristiwa 'kehilangan'.

Cerita Perjalanan Umroh #2

Saturday, January 27, 2024

Gila ya. Sedemikian dahsyat perjalanan umroh gue kemarin sampai sebegininya gue gagal move on. Jika diibaratkan cinta, gue jatuh cinta berkali-kali. Bucin level langit ke tujuh.

Sebegitunya perjalanan ini membekas di hati gue.

Setiap ada gambar dan video Ka'bah lewat di FYP gue, hati gue mencelos. Basah. Kadang kedua mata gue pun ikutan basah.

Mungkin gue sangat katrok. Sangat norak "lebay banget deh umroh baru sekali aje brisik" tapi i swear, kenikmatan Ibadah yang gue rasain di sana terlalu UINDAAAAHHH.

Gue bersyukur. Benar-benar bersyukur yang membuat gue kehabisan kata-kata. Gue pengen balik, meskipun gue nggak tahu gimana caranya nyari duit sebanyak itu :" huhu. 

Kenapa gue bersyukur? Karena ternyata, nggak semua orang punya pengalaman umroh semenyenangkan gue. Nggak semua orang dikasih kesempatan menikmati ibadah sampe sebegininya.

Dimuliakan, tinggal makan tidur ibadah, makan tidur ibadah. Maka Nikmat Tuhan-Mu yang Manakah yang Kau Dustakan :( *nangis

Gue dan Ambisi Gue

Monday, January 22, 2024

Kalau dipikir-pikir, gue ini nggak pinter-pinter amat, nggak jago-jago amat, tapi kenapa ya gue selalu punya dream, bahkan 'dream big' 

Gue pikir di usia gue yang 28 tahun ini, gue akan semeleh. Santuy, biasa aja, mengalir dan bakal sibuk galau soal jodoh.

Ternyata, nggak juga cuy! :( 

Gue perempuan yang meskipun nggak se-skillfull- itu tapi entah kenapa ambisi gue gedhe banget.

Selain urusan dengan Tuhan, mungkin no 2 list hal penting dalam hidup gue adalah menghidupi mimpi gue.

Gue selalu punya goals yang pengen gue capai dalam hidup gue. Baik itu karir, pendidikan maupun pengabdian yang menjadi ujung tombak impian gue kelak.

Anehnya, meskipun gue ambis, achievement gue sebenernya biasa-biasa aja. Gue bukan leader, manager apalagi bos. Bukan dosen juga apalagi profesor. 

Tapi gue ambis. Gue mau apa yang jadi harapan gue bisa gue capai. Atau setidaknya gue bisa khusu' berlari menuju ke arah sana. 

Berkali-kali gue kecewa dan gagal. Tapi berkali-kali juga gue -ngeyel- terus mencoba.

Berkali-kali gue ngeluh dan pengen nyerah. Tapi berkali-kali juga gue berusaha bangkit. 

Nahlo bingung gak tu? 

Pada akhirnya kayaknya gue harus agak menerima kenyataan sih, ambis adalah karakter w.

Gue dan ke-ambi-an gue adalah satu paket.

Gue ambi untuk diri gue sendiri. Untuk menikmati proses berusaha, ikhtiar, dan memberikan yang terbaik untuk GUE SENDIRI.

So yeah. Thats me. A complete package of stubbornness and ambitiousness. Hehe

Hopefully w ambis in a good way dan nggak zalim ma orang. 

Pencapaian Mereka Juga Jadi Kebahagiaan Buatku

Saturday, January 20, 2024

Beberapa hari ini gw mendengar kabar yang super duper menyenangkan. Beberapa teman gw dapat pekerjaan baru. Kebahagiaan gw bertambah ketika mendengar cerita mereka yang menyenangkan di kantor barunya. Gaji mereka naik, bosnya baik, lingkungan yang support, experience baru, serius gue se-seneng itu!!! Walopun tantangan dan yang namanya kerja pasti ada 'nggak enaknya' tapi gue berdoa semoga perlahan semuanya akan semakin baik dan lancar. Aaamiin . . .

Aku sangat bersyukur melihat teman-teman q rowing. 

Asli, ikut seneng banget melihat segala bentuk pencapaian mereka yang sangat luar biasa.

Gue berharap akan lebih banyak perempuan dan Muslimah yang makin berjaya, cemerlang, mengeluarkan potensi terbaik mereka yang mereka bisa salurkan dan bermanfaat untuk banyak orang.

Berkah-berkah semuanyaaa pokoknya yaahhh. Amiiinn paling seriuuuss.


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS