Raditya Dika pernah bilang, salah satu start/langkah menulis yang baik adalah punya keberanian menulis dengan jujur. Tapi di tengah gempuran angka, keberanian itu justru terasa begitu mahal, atau mungkin langka?
Berani, jujur, ekspresif dan menghargai proses menjadi tidak terlalu penting, atau setidaknya tergeser posisinya dengan sebuah kata bernama viralitas.
Viralitas menjadi sebuah standar baru—yang seringkali jadi satu-satunya standar—untuk mengukur tulisan itu baik/jelek, berhasil atau gagal.
Akhirnya banyak orang jadi ciut menulis. Rusak fokusnya demi mengejar “rating”
Proses menulis pun jadi tak senikmat "dulu"
Digerus waktu serba cepat dan sukses instant.
Termasuk buruh tulis yang mulai kabur menghargai proses kreatifitas
Rasanya seperti ada kebebasan yang direnggut, walau jelas atas nama profesionalisme, buruh tulis tidak bisa menulis seenak jidat.
Hanya saja, mengekor orang lain terkadang juga membuat kehilangan kepercayaan diri untuk menulis secara mandiri tanpa bayang-bayang angka.
Sungguh perasaan takut menulis hanya karena sepi pembaca itu mengganggu sekali!
Ah, semoga dengan sisa tenaga yang ada, siapapun yang mencintai menulis nggak perlu terlalu menuhankan angka dan algoritma untuk menulis dengan bahagia
Akhir kata,
Dipuji atau dicaci.
Diagungkan atau dikerdilkan jangan pernah berhenti menulis.
Teruslah menulis menulis dan menulis.
Ramai itu bonus.