Tergerogot Angka, angka dan angka

Saturday, October 31, 2026

Raditya Dika pernah bilang, salah satu start/langkah menulis yang baik adalah punya keberanian menulis dengan jujur. Tapi di tengah gempuran angka, keberanian itu justru terasa begitu mahal, atau mungkin langka?


Berani, jujur, ekspresif dan menghargai proses menjadi tidak terlalu penting, atau setidaknya tergeser posisinya dengan sebuah kata bernama viralitas. 


Viralitas menjadi sebuah standar baru—yang seringkali jadi satu-satunya standar—untuk mengukur tulisan itu baik/jelek, berhasil atau gagal.


Akhirnya banyak orang jadi ciut menulis. Rusak fokusnya demi mengejar “rating”


Proses menulis pun jadi tak senikmat "dulu"


Digerus waktu serba cepat dan sukses instant. 


Termasuk buruh tulis yang mulai kabur menghargai proses kreatifitas 


Rasanya seperti ada kebebasan yang direnggut, walau jelas atas nama profesionalisme, buruh tulis tidak bisa menulis seenak jidat. 


Hanya saja, mengekor orang lain terkadang juga membuat kehilangan kepercayaan diri untuk menulis secara mandiri tanpa bayang-bayang angka.


Sungguh perasaan takut menulis hanya karena sepi pembaca itu mengganggu sekali!


Ah, semoga dengan sisa tenaga yang ada, siapapun yang mencintai menulis nggak perlu terlalu menuhankan angka dan algoritma untuk menulis dengan bahagia


Akhir kata, 


Dipuji atau dicaci.


Diagungkan atau dikerdilkan jangan pernah berhenti menulis. 


Teruslah menulis menulis dan menulis.


Ramai itu bonus.

Burung yang Hinggap di Jendela Kamarku Hari ini pun Tahu, Betapa Sesak Rindu yang Bergelantungan di Sudut Kamarku

Aku tidak pernah membuka mata segelap ini

Hanya ada abu kelabu dalam pandanganku

Aku memilih menarik selimutku, membiarkan badanku terbaring dan memejamkan kembali mataku 


"Aku tidak ingin membuka mataku, Tuhan, bisakah aku menutup mata lebih lama atau jika bisa, jangan buat aku terbangun selamanya"


Seekor burung datang hinggap di jendela kamarku, mengepakkan dua sayapnya yang lusuh dan basah, hujan rupanya. 

Ia menggeser tirai kamarku sedikit membuat cahaya matahari menusuk mataku yang lengket.


Sialan.


Aku hanya ingin tidur. Aku tidak ingin bangun dan terbangun. 


Aku ingin menutup semua lembaran kisah yang pernah kutorehkan. Sepenuhnya. 


Mengapa aku harus bangun jika semua jalan yang ku lalui selalu berujung pada gagal dan perpisahan


Mencintai itu melelahkan. 

Setidaknya cinta itu telah merampok hidupku. 


Aku mencintai dalam kebisuan, dengan telan-telan yang begitu nyeri di kerongkongan


Aku mencintai dengan otak yang lumpuh, dipenjara oleh pikiran yang mentok pada angan-angan


Cinta telah membuatku pekak pada suara, menyisakan ruang tangis dari bibir ku yang tergugu


Barangkali seperti lagu Ed Sheran: 


Loving can hurt, loving can hurt sometimes

But it's the only thing that I know

When it gets hard, you know it can get hard sometimes

It is the only thing that makes us feel alive


Sialnya. mencintaimu dengan sakit, membuatku hidup


22 Oktober 2026

Rispek itu Gak Maksain Orang Harus Sama Kayak Kamu

Tuesday, September 15, 2026

Nggak setiap orang akan mengerti nilai dan value dalam hidup mu yang kamu pegang. Meski nggak sempurna, aku termasuk orang yang sangat bertoleransi dengan bermacam-macam orang. 

Contoh:

Sama temen yang pacaran, aku nggak akan nge judge dia "murah" tapi sama yang gak mau, gak pernah pacaran, jaga jarak dengan laki-laki juga gak aku labeli "terlalu jual mahal"

Sama yang kerudungnya pendek atau nggak kerudungan nggak akan banyak nanya "kenapa" sama yang kerudungan panjang pun nggak akan berisik ngomentarin outfit. 

Bahkan se urgent tentang salat pun, aku nggak pernah mau cawe-cawe. 

Aku punya sirkel orang yang salatnya rajin Masya Allah, tapi aku juga punya sirkel dimana aku jadi satu-satunya orang yang salat. 

Salat ayuk, nggak salat terserah. 

Agama menjadi hal yang sangat personal buat aku. 

Aku toleransi tapi bukan berarti aku membebaskan hal yang sama buat diriku. Aku jelas punya value, nilai, prinsip yang aku pegang sampai sekarang. Kadang nggak sempurna, tapi prinsip ini jelas aku pegang erat-erat. 

Aku keras tentang beragama ke diriku tapi bukan berarti aku maksa orang lain sama dengan ku. 

Aku berusaha menghormati siapapun yang berbeda denganku, tetap berteman dan bersikap sopan dan respect. 

Tapi tolong bisakah prinsip-prinsip ku juga dihargai? Meskipun masih belum sempurna pun, seharusnya aku nggak dipaksa untuk berkata "ya" pada sesuatu hal yang membuatku gak nyaman!

Do I Not Like My Job?

Thursday, August 13, 2026

These days, I feel like I’ve lost my interest in writing, something I’ve been doing for a long time. I’ve had this blog since I was in junior high school. Actually, it’s not that I’m “losing” interest. I just feel tired. I feel like I’ve failed as a writer :")

I have a dream of becoming an author. I’ve tried my best. I kept writing until I became a content writer, and I’ve been doing it for more than six years.

At the beginning, I felt so happy with my work. But these days, I feel like being a writer in a company doesn’t make me happy, so I write for myself on another platform. But sometimes, I feel stuck. Sometimes, I can’t be honest with my writing. Sometimes, I’m afraid.

I don’t know why, even though I remember Raditya Dika saying, “Be yourself in writing. Just be honest with who you are.”

I don’t know why I don’t have enough courage anymore, like I did when I was a teenager. I miss the time when I was really brave enough to be myself :"

I’m writing even though I’m tired.
I keep writing, even if it’s only a “status.”
I’m writing and keeping the ideas I want to write about someday.
I put my notes in WhatsApp.

But I don’t know why I feel like my writing isn’t good enough :(

I want to keep writing even though no one sees my posts. I just want to write without looking at the “numbers” -> likes, shares, etc.

But as a content writer, I don’t know why my brain is wired to think that if you don’t go viral, you’ve failed. And I hate this mindset!!!

This mindset ruins my sincerity in writing, something that I’ve really loved since I was a kid.

But sometimes, whenever I feel “insecure” about my achievements, surprisingly, I get motivation from my friends. They say, “I like your writing,” “Keep writing,” “Your writing is beautiful,” “Your writing sounds sincere,” and so on.

Even my online friends from Arab countries have told me that my writing is good and that I’m a good writer.

It means a lot to me, but Yaa Rabb, I need a stable mindset. I want to write without letting compliments or criticism affect me too much.

I’ve spent more than half of my life writing.

And I still want to be a writer.

Allah, please help me find myself and rediscover my sincere love for writing. Make me a writer who can contribute to this ummah :"

Dari 30 untuk 31

Tuesday, March 24, 2026

Belajar untuk menurunkan ekspektasi. Belajar untuk apa-apa bisa sendiri. Jangan pernah menyandarkan harapan kepada manusia. 


Zikir lebih banyak, istighfar lebih banyak karena hanya dengan mengingat Allah hati lebih tenang. 


Kamu belum baik, maka khuznuzon lah sama orang lain. Beri rukhsoh pada lidah dan sikap orang yang pernah menyakitimu


Kalau ada yang salah, kalau ada yang bikin marah, kalau rugi, dibohongi, dirugikan, disakiti, bukan orang lain yang salah, tapi kamu yang harus belajar lebih lapang

Belajar menunjuk kesalahan sendiri sebelum sibuk mencari kesalahan orang lain


Bekerja keras lah lebij banyak, jangan takut mencoba dan gagal

Nggak papa, lebih baik belum berhasil daripada terus tidak bergerak kemana-kemana


Atur keuangan lebih ketat, kurangi bergaya, hidup sederhana. Porsi sedekah harus lebih banyak! Jangan menumpuk harta karena takut miskin, harta dimanfaatin buat ummat. 

Bantu keluarga, banyak-banyak beri hadiah kepada teman dan hidupkan jariyah untuk bapak

Perketat nabung buat prioritas haji dan umroh, jangan tergiur dengan branded brand yang tidak membuat kamu jadi muslim yang lebih manfaat


Belajar lebih banyak, banyak baca buku, perluas pergaulan, explore banyak hal


Tambah ibadah sunnah, banyak taubat sama Allah. Dosamu banyak, kamu hanya beruntung karena Allah tutupi aib-aib mu. 



Minta maaf kepada semua orang yang bahkan kamu gak suka sama dia. Bisa jadi, Allah lebih ridha kepadanya ketimbang kamu.

Welcome 2026 Lama Gak Nulis di Blog, Hehe

Friday, January 23, 2026

Lama nggak nulis di blog. Hehe

Kebanyakan handle social media, nyobain nulis beda-beda jenis topik lumayan bikin aku jadi kehilangan identity. Jadi apa sebenernya yang gue mauu? Huhu

Apa sebenernya kekutan terbesar gue dalam menulis? Tipe yang kayak gimana?

Lebih ke tulisan bijak reflektif, tulisan yang lumayan meledak-ledak, atau puitis? 

Kebingungan gue terjawab sama nasihatnya Raditya Dika. Katanya modal utama untuk menjadi story teller adalah: Keberanian lo untuk menceritakan dengan jujur apa yang lo gelisahkan. 

Doain gue bisa lebih banyak produktif di 2026 tanpa TAKUT MENJADI JELEK untuk menyuarakan suara gue dengan lebih jujur. 

Meski gue sebenernya cukup blak-blakan, tapi gak gue pungkiri, gue punya banyak ketakutan. Terutama gue takut kalau tulisan gue jelek :")

Love Hate “Life Relationship” Towards Thirty

Tuesday, June 3, 2025

Aku pikir, masa-masa paling "bingung" alias "quarter life crisis" tuh akan berhenti di usia dua puluh lima tahunan kemarin. 

Tapi ternyata, ngap-ngapan dalam hidup tuh nggak ada berhentinya ya.

Setiap fase perjalanan kehidupan ada aja gebrakannya, ada aja 'kejutannya'. Kadang bikin spot jantung, kadang bikin Ya Allah-Allah, tapi kadang juga kayak "yaudahlah".

Aku pikir, apa yang kita jalani saat ini sudah cukup settle, tapi ternyata nggak juga.

Ada keinginan baru, kegalauan baru, kebingungan baru, ketakutan baru. 

Benar, hidup itu akan terus bertumbuh. Jenis ujian nggak mungkin sama. Bisa beda, bisa juga lebih sulit. 

Agak ngap-ngapan akhir-akhir ini. 

Ngerasa kayak jalan di tempat, buat maju selangkah aja bingung. Ngerti nggak si orang bingung, pengen ngelakuin ini tapi gini, pengen gitu tapi gini. Bukan nggak mau nyoba, justru udah nyoba tapi kadang emang ada fase dimana takdir baik lagi nggak berpihak di kita. 

Tapi kalau disuruh sabar terus-terusan juga ada capeknya :") 

Berisik sekali kepala ini. 

Tapi habis itu jadi mikir, 

Kalau terlalu riuh, nanti jadi nggak bisa mensyukuri hal-hal kecil yang dipunya

Ambis boleh, tapi harus pada porsinya, ada hal-hal yang nggak bisa kita kontrol, mau se jungkir balik apapun kita mau mencapainya :") 

Lalu inget nasihat terbaik saat ini, lihat Gaza. 

Di tengah badai kesulitan yang tak terkira, "Alhamdulillah" mereka lebih kencang, dibanding syukur kita yang macet, ngadat, kadang juga mogok total.

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS