Tergerogot Angka, angka dan angka

Saturday, October 31, 2026

Raditya Dika pernah bilang, salah satu start/langkah menulis yang baik adalah punya keberanian menulis dengan jujur. Tapi di tengah gempuran angka, keberanian itu justru terasa begitu mahal, atau mungkin langka?


Berani, jujur, ekspresif dan menghargai proses menjadi tidak terlalu penting, atau setidaknya tergeser posisinya dengan sebuah kata bernama viralitas. 


Viralitas menjadi sebuah standar baru—yang seringkali jadi satu-satunya standar—untuk mengukur tulisan itu baik/jelek, berhasil atau gagal.


Akhirnya banyak orang jadi ciut menulis. Rusak fokusnya demi mengejar “rating”


Proses menulis pun jadi tak senikmat "dulu"


Digerus waktu serba cepat dan sukses instant. 


Termasuk buruh tulis yang mulai kabur menghargai proses kreatifitas 


Rasanya seperti ada kebebasan yang direnggut, walau jelas atas nama profesionalisme, buruh tulis tidak bisa menulis seenak jidat. 


Hanya saja, mengekor orang lain terkadang juga membuat kehilangan kepercayaan diri untuk menulis secara mandiri tanpa bayang-bayang angka.


Sungguh perasaan takut menulis hanya karena sepi pembaca itu mengganggu sekali!


Ah, semoga dengan sisa tenaga yang ada, siapapun yang mencintai menulis nggak perlu terlalu menuhankan angka dan algoritma untuk menulis dengan bahagia


Akhir kata, 


Dipuji atau dicaci.


Diagungkan atau dikerdilkan jangan pernah berhenti menulis. 


Teruslah menulis menulis dan menulis.


Ramai itu bonus.

Burung yang Hinggap di Jendela Kamarku Hari ini pun Tahu, Betapa Sesak Rindu yang Bergelantungan di Sudut Kamarku

Aku tidak pernah membuka mata segelap ini

Hanya ada abu kelabu dalam pandanganku

Aku memilih menarik selimutku, membiarkan badanku terbaring dan memejamkan kembali mataku 


"Aku tidak ingin membuka mataku, Tuhan, bisakah aku menutup mata lebih lama atau jika bisa, jangan buat aku terbangun selamanya"


Seekor burung datang hinggap di jendela kamarku, mengepakkan dua sayapnya yang lusuh dan basah, hujan rupanya. 

Ia menggeser tirai kamarku sedikit membuat cahaya matahari menusuk mataku yang lengket.


Sialan.


Aku hanya ingin tidur. Aku tidak ingin bangun dan terbangun. 


Aku ingin menutup semua lembaran kisah yang pernah kutorehkan. Sepenuhnya. 


Mengapa aku harus bangun jika semua jalan yang ku lalui selalu berujung pada gagal dan perpisahan


Mencintai itu melelahkan. 

Setidaknya cinta itu telah merampok hidupku. 


Aku mencintai dalam kebisuan, dengan telan-telan yang begitu nyeri di kerongkongan


Aku mencintai dengan otak yang lumpuh, dipenjara oleh pikiran yang mentok pada angan-angan


Cinta telah membuatku pekak pada suara, menyisakan ruang tangis dari bibir ku yang tergugu


Barangkali seperti lagu Ed Sheran: 


Loving can hurt, loving can hurt sometimes

But it's the only thing that I know

When it gets hard, you know it can get hard sometimes

It is the only thing that makes us feel alive


Sialnya. mencintaimu dengan sakit, membuatku hidup


22 Oktober 2026

Rispek itu Gak Maksain Orang Harus Sama Kayak Kamu

Tuesday, September 15, 2026

Nggak setiap orang akan mengerti nilai dan value dalam hidup mu yang kamu pegang. Meski nggak sempurna, aku termasuk orang yang sangat bertoleransi dengan bermacam-macam orang. 

Contoh:

Sama temen yang pacaran, aku nggak akan nge judge dia "murah" tapi sama yang gak mau, gak pernah pacaran, jaga jarak dengan laki-laki juga gak aku labeli "terlalu jual mahal"

Sama yang kerudungnya pendek atau nggak kerudungan nggak akan banyak nanya "kenapa" sama yang kerudungan panjang pun nggak akan berisik ngomentarin outfit. 

Bahkan se urgent tentang salat pun, aku nggak pernah mau cawe-cawe. 

Aku punya sirkel orang yang salatnya rajin Masya Allah, tapi aku juga punya sirkel dimana aku jadi satu-satunya orang yang salat. 

Salat ayuk, nggak salat terserah. 

Agama menjadi hal yang sangat personal buat aku. 

Aku toleransi tapi bukan berarti aku membebaskan hal yang sama buat diriku. Aku jelas punya value, nilai, prinsip yang aku pegang sampai sekarang. Kadang nggak sempurna, tapi prinsip ini jelas aku pegang erat-erat. 

Aku keras tentang beragama ke diriku tapi bukan berarti aku maksa orang lain sama dengan ku. 

Aku berusaha menghormati siapapun yang berbeda denganku, tetap berteman dan bersikap sopan dan respect. 

Tapi tolong bisakah prinsip-prinsip ku juga dihargai? Meskipun masih belum sempurna pun, seharusnya aku nggak dipaksa untuk berkata "ya" pada sesuatu hal yang membuatku gak nyaman!

Do I Not Like My Job?

Thursday, August 13, 2026

These days, I feel like I’ve lost my interest in writing, something I’ve been doing for a long time. I’ve had this blog since I was in junior high school. Actually, it’s not that I’m “losing” interest. I just feel tired. I feel like I’ve failed as a writer :")

I have a dream of becoming an author. I’ve tried my best. I kept writing until I became a content writer, and I’ve been doing it for more than six years.

At the beginning, I felt so happy with my work. But these days, I feel like being a writer in a company doesn’t make me happy, so I write for myself on another platform. But sometimes, I feel stuck. Sometimes, I can’t be honest with my writing. Sometimes, I’m afraid.

I don’t know why, even though I remember Raditya Dika saying, “Be yourself in writing. Just be honest with who you are.”

I don’t know why I don’t have enough courage anymore, like I did when I was a teenager. I miss the time when I was really brave enough to be myself :"

I’m writing even though I’m tired.
I keep writing, even if it’s only a “status.”
I’m writing and keeping the ideas I want to write about someday.
I put my notes in WhatsApp.

But I don’t know why I feel like my writing isn’t good enough :(

I want to keep writing even though no one sees my posts. I just want to write without looking at the “numbers” -> likes, shares, etc.

But as a content writer, I don’t know why my brain is wired to think that if you don’t go viral, you’ve failed. And I hate this mindset!!!

This mindset ruins my sincerity in writing, something that I’ve really loved since I was a kid.

But sometimes, whenever I feel “insecure” about my achievements, surprisingly, I get motivation from my friends. They say, “I like your writing,” “Keep writing,” “Your writing is beautiful,” “Your writing sounds sincere,” and so on.

Even my online friends from Arab countries have told me that my writing is good and that I’m a good writer.

It means a lot to me, but Yaa Rabb, I need a stable mindset. I want to write without letting compliments or criticism affect me too much.

I’ve spent more than half of my life writing.

And I still want to be a writer.

Allah, please help me find myself and rediscover my sincere love for writing. Make me a writer who can contribute to this ummah :"

Dari 30 untuk 31

Tuesday, March 24, 2026

Belajar untuk menurunkan ekspektasi. Belajar untuk apa-apa bisa sendiri. Jangan pernah menyandarkan harapan kepada manusia. 


Zikir lebih banyak, istighfar lebih banyak karena hanya dengan mengingat Allah hati lebih tenang. 


Kamu belum baik, maka khuznuzon lah sama orang lain. Beri rukhsoh pada lidah dan sikap orang yang pernah menyakitimu


Kalau ada yang salah, kalau ada yang bikin marah, kalau rugi, dibohongi, dirugikan, disakiti, bukan orang lain yang salah, tapi kamu yang harus belajar lebih lapang

Belajar menunjuk kesalahan sendiri sebelum sibuk mencari kesalahan orang lain


Bekerja keras lah lebij banyak, jangan takut mencoba dan gagal

Nggak papa, lebih baik belum berhasil daripada terus tidak bergerak kemana-kemana


Atur keuangan lebih ketat, kurangi bergaya, hidup sederhana. Porsi sedekah harus lebih banyak! Jangan menumpuk harta karena takut miskin, harta dimanfaatin buat ummat. 

Bantu keluarga, banyak-banyak beri hadiah kepada teman dan hidupkan jariyah untuk bapak

Perketat nabung buat prioritas haji dan umroh, jangan tergiur dengan branded brand yang tidak membuat kamu jadi muslim yang lebih manfaat


Belajar lebih banyak, banyak baca buku, perluas pergaulan, explore banyak hal


Tambah ibadah sunnah, banyak taubat sama Allah. Dosamu banyak, kamu hanya beruntung karena Allah tutupi aib-aib mu. 



Minta maaf kepada semua orang yang bahkan kamu gak suka sama dia. Bisa jadi, Allah lebih ridha kepadanya ketimbang kamu.

Welcome 2026 Lama Gak Nulis di Blog, Hehe

Friday, January 23, 2026

Lama nggak nulis di blog. Hehe

Kebanyakan handle social media, nyobain nulis beda-beda jenis topik lumayan bikin aku jadi kehilangan identity. Jadi apa sebenernya yang gue mauu? Huhu

Apa sebenernya kekutan terbesar gue dalam menulis? Tipe yang kayak gimana?

Lebih ke tulisan bijak reflektif, tulisan yang lumayan meledak-ledak, atau puitis? 

Kebingungan gue terjawab sama nasihatnya Raditya Dika. Katanya modal utama untuk menjadi story teller adalah: Keberanian lo untuk menceritakan dengan jujur apa yang lo gelisahkan. 

Doain gue bisa lebih banyak produktif di 2026 tanpa TAKUT MENJADI JELEK untuk menyuarakan suara gue dengan lebih jujur. 

Meski gue sebenernya cukup blak-blakan, tapi gak gue pungkiri, gue punya banyak ketakutan. Terutama gue takut kalau tulisan gue jelek :")

Love Hate “Life Relationship” Towards Thirty

Tuesday, June 3, 2025

Aku pikir, masa-masa paling "bingung" alias "quarter life crisis" tuh akan berhenti di usia dua puluh lima tahunan kemarin. 

Tapi ternyata, ngap-ngapan dalam hidup tuh nggak ada berhentinya ya.

Setiap fase perjalanan kehidupan ada aja gebrakannya, ada aja 'kejutannya'. Kadang bikin spot jantung, kadang bikin Ya Allah-Allah, tapi kadang juga kayak "yaudahlah".

Aku pikir, apa yang kita jalani saat ini sudah cukup settle, tapi ternyata nggak juga.

Ada keinginan baru, kegalauan baru, kebingungan baru, ketakutan baru. 

Benar, hidup itu akan terus bertumbuh. Jenis ujian nggak mungkin sama. Bisa beda, bisa juga lebih sulit. 

Agak ngap-ngapan akhir-akhir ini. 

Ngerasa kayak jalan di tempat, buat maju selangkah aja bingung. Ngerti nggak si orang bingung, pengen ngelakuin ini tapi gini, pengen gitu tapi gini. Bukan nggak mau nyoba, justru udah nyoba tapi kadang emang ada fase dimana takdir baik lagi nggak berpihak di kita. 

Tapi kalau disuruh sabar terus-terusan juga ada capeknya :") 

Berisik sekali kepala ini. 

Tapi habis itu jadi mikir, 

Kalau terlalu riuh, nanti jadi nggak bisa mensyukuri hal-hal kecil yang dipunya

Ambis boleh, tapi harus pada porsinya, ada hal-hal yang nggak bisa kita kontrol, mau se jungkir balik apapun kita mau mencapainya :") 

Lalu inget nasihat terbaik saat ini, lihat Gaza. 

Di tengah badai kesulitan yang tak terkira, "Alhamdulillah" mereka lebih kencang, dibanding syukur kita yang macet, ngadat, kadang juga mogok total.

March 24, 2025

Monday, April 7, 2025

Today is my birthday. 

Usually I would write a "reflective" piece about what has happened in my life in the past year.

But lately I've been feeling a lot more anger at the messy world. Bad and full of unjust people in power. 

Indonesia's deteriorating political situation. The oligarchic regime in power, the stupid and corrupt leaders and the people trapped in a difficult economic trap.

Indonesia is a country that is extremely rich in natural resources. Mining, gold, agriculture, maritime, we have it all. Oil, gas, nickel, coal, the forest and breathing heart of the world. 

But everything is ruined because of the rotten leadership regime

Worse, education in Indonesia has also stuck.

Many children drop out of school, illiteracy, low reading power. 

All because of the zalim-greedy-corrupt regime!!!!!!!!!

Not only that, if we look at Gaza, and Palestine. The world will look more and more rotten and worse!!

Zionist savagery. "Pig armies" whose evil more than the devil. 

What fv*k*n zionis did to Gaza makes us tired, angry, desperate, guilty and stressed to see our brothers and sisters brutally killed, and we can only 'watch'

If, inside the walls of Gaza there is an inscription "Ummat Muhammad can never be defeated"

Then I really miss that ummah. 

On my birthday, I really hope that this world to find peace soon, and evil leaders to be eliminated. 

Iam tired of this cruel world.

Even in my silence, I cursed the world system that is unjust and greedy. 

Its leaders, its people, especially Muslims who are too far away from faith.

Yaa Rabb, if I sin in asking, then let me sin once, where is the promise of victory? 😭

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ إِمَارَةِ الصِّبْيَانِ وَالسُّفَهَاء

اللَّهُمَّ، مَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَشَقَّ عليهم، فَاشْقُقْ عليه، وَمَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَرَفَقَ بهِمْ، فَارْفُقْ بهِ

29

Monday, March 24, 2025

Tidak banyak yang kupinta

Aku hanya ingin dicukupkan hatiku dengan kehadiran-Nya

Terkadang aku kelelahan dengan diriku sendiri. 

Bersikap baik sering dihajar kecewa, karena tulusku ternyata tak cukup kuat

Memegang prinsip erat-erat pun kerap dianggap "terlalu" keras kepala

Tak ada orang yang benar-benar mengerti aku, dengan segala hal rumit dikepalaku

Tapi itu membuat perjalanan hidupku sebenarnya banyak makna

Karena memangnya siapa yang bilang manusia akan mengerti? 

Kita semua memiliki egoisme

Kita semua memiliki kekurangan

Maka hati ini perlu ditempa

Dengan hal-hal menyakitkan, dengan banyak hal yang membuat kita marah, muak, kecewa, jatuh, bahkan tersiksa

Maka dengan hal tersebut, kita tahu kepada siapa kita seharusnya berlepas diri

Ragam Efek Duka

Thursday, January 16, 2025

Hari ini ngobrol sama orang yang qadarullah ayahnya udah nggak ada.
Di tengah obrolan ada sedikit yang mendesir di hatiku. "Ini orang ngomong sangat to the point dan terlalu realistis banget deh. Nggak di filter. Kayak ngomong flat tanpa ada rasa. Nggak jahat sih, bukan nir empati juga, tapi "anyep"."

Aku mikir lagi "Bukankah seharusnya orang yang pernah merasakan duka dan banyak kepahitan hidup empatinya jadi makin terasah ya"

Tapi ternyata enggak selalu. Duka ternyata punya 'efek samping' yang beragam. Bisa jadi juga, orang semakin keras, semakin anyep bukan karena dia jahat. Tapi dia sudah terlalu jauh melalui hari-hari yang berat. 

Aku sempat memprotes "Kamu ngomong tuh nggak ada sensitivitasnya ya"

"Iya, aku orangnya dingin. Aku udah berusaha merubah, tapi pasti balik lagi. Aku natural nya begini"

Hmm, alih-alih marah, aku justru sedih sama dia :( kayak 'apa mungkin selama ini dia nggak terbiasa tervalidasi ya perasaannya, sampe sebegini anyep nya'


Memahami orang lain dan mengedepankan postive thinking tuh enak banget ya. Nggak ada ganjelan di hati, pandangan juga jadi indah aja gitu. 

Tapi dasarnya ini bocah emang baik sih. Hehe

Yaa pada akhirnya, "baik" itu sebuah bahasa yang akan selalu sampai di hati se berbeda apapun karakter, sifat, bangsa, negara, bentuk rupa, tubuh  dan apapun itu. 

Duh nulis begini saja aku berkaca-kaca. Hehe

Suara Hati Orang Ramah

Monday, December 23, 2024

Kemarin ada temen yang curhat habis reach out salah satu temen lamanya tapi malah dibalas dengan jawaban yang bisa dibilang nggak mengenakan hati. 


Cuek, jutek, ketus. 


Waktu itu aku cuma bilang gini ke dia "Aku kalo jadi kamu, aku juga kesel. Uanyel. Tapi X (kusebut nama temenku), kita harus tahu bahwa ngga semua orang suka dengan karakter orang yang ramah. Nggak semua orang cocok sama orang ceria kayak kita, nggak semua orang suka di reach out sama temen lamanya. Apalagi kesannya 'lo dateng disaat lo butuh aja' aku paham niat mu bukan memanfaatkan, tapi sekali lagi gak semua orang seneng dengan cara kita berinteraksi."


Aku lumayan ngomelin temenku ini, karena sebenernya ini bukan kejadian pertama dia dijutekin sama temennya. 

Tapi masih aja reach out. 


Buat aku pribadi, aku menyadari bahwa ngga semua orang suka sama karakter orang yang friendly (ramah) atau ceria.


Ya nggak papa juga, gak semua harus cocok. Tapi please jangan terus direspon seenaknya. 

Orang ramah juga punya perasaan kali :( 

Belajar lah buat merespons sesuatu dengan baik. Nyesuein lawan bicaramu. (Inget ya ini POV orang ramah). 


Kalau ngga setuju, nggak suka sampaikan dengan cara yang santun. Pilih kalimat yang menenangkan bukan menyakitkan. 

Jangan dikacangin juga, atau sengaja banget chat gadibales :( ayukk belajar respect satu sama lain :( 


Atau bisa gitu disampaikan dengan cara yang baik kenapa kok jawabnya gitu. 


Jujur, jadi orang ramah, friendly, badut antar geng yang suka jadi bahan pencair suasana kadang tu cape kalo direspon dengan cuek dan jutek :' jadi please yuk bisa yuk belajar komunikasi yang menghangatkan satu sama lain 🩷


***


Ah aku jadi inget suatu momen yang bikin aku agak sadar bahwa komunikasi yang baik tu emang harus saling diusahakan. 

Yaitu pas dapet partner kerja yang Masyaa Allah FLAAATTTTTTTT pooollll bener2 mentok banget komunikasinya. Super SPJ( singkat, padat, jelas). 


Pusing dah tu karena aku jadi berasumsi, nggak enakan, takut, bingung, nggak cocok, dll.


Tapi waktu itu mungkin karena kepentok keadaan ya jadinya aku mau effort lebih. 

Akhirnya aku memberanikan diri buat ngebercandain, ngajak ngobrol, main tebak-tebakkan, tanya-tanya YAAAMPUUUUUNNNN effort banget dulu. Bahkan aku sama temenku sampe kongkalikong ngerjain dia biar suasana cair. Semua semata-mata demi komunikasi lancar. LOL


Walopun gak signifikan berubah, tapi ngaruh loh. Sekarang orangnya bisa jauh lebih komunikatif, bisa bercanda. Bahkan sampe beberapa temen bilang "eh si Y sekarang mendingan deh komunikasinya" 

Bangga banget bisa naklukin orang FLAT. Heheh


Tapi aku sadar, ini bukan karena aku sendiri. Selain karena kebetulan ada temen lain yang bisa ku ajak ngebanyol bareng, si orang SPJ ini juga mau berubah. Menyesuaikan diri buat lebih aktif dan komunikatif  


Komunikasi yang baik salah satunya harus dimulai dari ego yang diturunkan.

Tentang Komunikasi

Sunday, December 22, 2024

 Suatu hari disebuah pengajian, kami kehadiran orang yang *maaf agak aneh. Mungkin kasarnya, kita nyebut mereka adalah 'orang freak'. 

Saat itu kami tanpa bermaksud mengejek, ngempet ketawa. Sekali lagi bukan untuk mengejek, tapi kami kehilangan petunjuk bagaimana seharusnya bersikap meskipun kami pun tetap menanggapinya dengan sopan. 


Setelah itu aku menanyakan keada seorang mahasiswa S2 psikologi tentang bagaimana seharusnya merespon/bersikap bila berhadapan dengan 'orang freak'. Temenku yang calon psikolog menjawab bahwa ya nggak punya pilihan lain selain tetap merespon. Menghargai keberadaan dia. 


Saat itu aku belum terlalu paham meski mengiyakan. 


***


Beberapa waktu lalu, aku selesai membaca sebuah buku sirah Nabi yang ditulis dengan bahasa - bahasa sederhana. Judul bukunya "Meeting Muhammad" Karya Ustaz Oemar Sulaeman. 


Dalam buku tersebut dijelaskan salah satu kisah bagaimana Rasulullah bersikap kepada ummatnya. Salah satunya adalah kepada seorang wanita yang ternyata setengah gila. Rasulullah TIDAK PERNAH menghardik, menyepelekan atau merendahkan orang ini. Saat orang agak gila ini berbicara, Rasulullah pun mendengarkan dan merespon dengan hormat. (Kalau ada yang udah baca buku ini please CMIIW) 


Dari sini, kita belajar 


Setiap orang punya hak yang sama untuk diperlakukan dengan BAIK dan SANTUN. 

Bahkan kepada orang yang kewarasannya nggak sempurna. 


APALAGI sama orang yang memiliki akal dan emosional yang normal. 


Janganlah bermudah-mudahan menyakiti orang lain. Apalagi jadiin kebiasaan?


Komunikasi yang baik itu memang membutuhkan banyak aspek untuk dipahami. 

Bahkan menurutku, sebelum komunikasi, kita itu harus bisa understanding dulu. 


Ngerti dulu karakter/sifat nya, budayanya, latar belakang nya, dll. 


Sehingga respon atau cara penyampaian pesan kita tu bisa disesuaikan. 


Dan ini tu memang harus dilatih. Harus banyak jam terbang ketemu beragam manusia dengan perbedaan yang macem-macem. 


TAPI yaaa, pun kita cuek, sulit memahami orang, dll


Kita itu punya naluri. Ada sebuah hubungan perasaan antar manusia yang nggak bisa dijelaskan tapi kita tahu, bahwa naluri selalu menghantarkan pada hal-hal baik. Termasuk berkomunikasi. 


"Kindness is the language which the deaf can hear and the blind can see"


-Mark Twain-


Jadi yaaa sebenernya bisa kok komunikasi dengan baik tuh. Merespon obrolan dengan baik tu bisaaaa. 


Asal mau nyoba, nurunin ego dan latihan.

Rinduku Dibayar Tuntas

Monday, November 18, 2024

Dengan bayang-bayangnya yang menari di pikiranku
Dengan tidur yang gagal nyenyak
Dengan senyum yang sepaket dengan airmata (juga)
Dengan teriakan-teriakan kecil yang kututupi dengan bantal
Dengan harap-cemas-harap cemas yang tak terhitung bilangnya

Siksaan yang indah, katanya.

Tentang Palestina, Siapa yang Seharusnya Paling Marah & Bersedih?

Sunday, November 10, 2024

Sebenarnya, aku marah dengan banyak orang yang memilih diam dan tidak mengambil peran untuk menyuarakan Palestina. Termasuk keluarga dan teman-teman ku sendiri. Aku kecewa, meski tidak mengatakannya secara langsung. 

Kali ini, untuk Palestina, kita seharusnya  bergerak dengan terang-terangan, menyebarluaskan amalan ke-Palestina-an sekencang mungkin, dan TIDAK MEREMEHKAN usaha sekeciiil apapun, termasuk bersuara. 

Bukankah memang sudah saatnya ummat Islam bersatu? 

Jika kita terus terbelenggu dalam pikiran yang egois, tidak menjadikan issue Palestina sebagai sesuatu hal yang penting, lantas mau sampai kapan kamu melihat ummat Muhammad terus dibantai dan dibunuh? 

***

Saat melihat bayi-bayi mati tergeletak di tanah, anak-anak yang menjerit kelaparan, bocah-bocah lugu tanpa dosa dibunuh? Siapa yang seharusnya berteriak paling marah?

Tentu, mereka yang menyebut dirinya “Ayah dan Ibu.”

Saat melihat orang tua dibuka bajunya, tersungkur, kesakitan, diperlakukan tidak patut. Siapa yang seharusnya paling marah? 

Tentu, mereka yang menyebut dirinya “anak”

Saat melihat perempuan suci dilecehkan? Laki-laki penuh kehormatan dilecehkan?

Siapa yang seharusnya paling marah?

Ayah, ibu, saudara kandung, kerabat, isteri dan suami tentu menjadi orang yang siap menyambit mereka dengan celurit panjang. 

Saat para dokter, nakes, paramedis disandera diancam kehidupannya? 

Siapa yang seharusnya terusik? 

Tentu seharusnya mereka yang menyebut dirinya “sejawat”

Saat para jurnalis dibunuh, dibungkam suaranya

Siapa yang seharusnya paling marah, protes, dan geram? 

Tentu seharusnya ‘sesama’ jurnalis yang paling lantang menyuarakan solidaritas. 

Para ibu dan perempuan yang tidak punya ruang aman untuk melahirkan, mengasihi, dan HAID

Siapa yang seharusnya paling marah? 

Para perempuan, organisasi keperempuanan, bukan? 

Lalu, sesungguhnya apa & bagaimana peran kita semua? 

Bukankah kita sebenarnya juga menggenggam peran yang sama dengan mereka, lantas mengapa memilih bungkam? Dan aduhai enak sekali menjadi penonton pembunuhan

Sekali lagi,

Bukankah seharusnya kita menjadi orang paling yang geram, terusik dan marah? 

Bahkan b*j*ng*n tak akan pernah cukup untuk menggambarkan kebiadaban Z10n15. 

Sayang,

Nurani (kita) lumpuh, Iman dan islam pun rapuh. 

Jangankan berbicara tentang ‘pembebasan’  Al Aqsa, jauh sekali rasanya.

Lawong membicarakan dalam ruang "kemanusiaan saja" kelu. 

Aku pun hanya bisa mengaminkan, mengakui kelemahan, 

Dimana ummat Muhammad?

Ia banyak, namun seperti BUIH DI LAUTAN.

Menangisi Palestina

Thursday, November 7, 2024

Aku selalu tidak kuat, saat mereka memekikkan kalimat:

“Akan aku adukan UMMAT ISLAM pada ALLAH”

“YAA RASULULLAH, JANGAN KAU BERIKAN SYAFAAT UNTUK ARAB, UNTUK MUSLIM, MEREKA MEMBIARKAN KAMI MATI.”

Aku takut. 
Aku takut menjadi salah satu dari mereka yang dikutuk karena membiarkan Palestina sengsara di bawah penjajahan. 
Aku takut, tapi bukankah kita semua pantas mendapatkan kemarahan dari rakyat Palestina? 😭

***

Di sisi lain,
Hati ku juga PORAK PORANDA, saat justru mereka yang memberikan penghiburan untukku, untuk kita. 

“Terima kasih” ucap mereka saat aku menjelaskan pada mereka bahwa aku dan teman-temanku memiliki project kecil-kecilan untuk raise awareness tentang Palestina. 

“Ayo bicarakan hal lain, aku selalu melihat kamu bersedih saat membicarakan tentang Gaza,” ucap seorang teman online menenangkanku dari Khan Younis, Gaza, Palestina

Bagaimana bisa mereka yang mencoba membesarkan hatiku disaat merekalah yang hidup jauh lebih sulit dariku. 

YA ALLAH
YA ALLAH
YA ALLAH
YAAA ALLAAAHHHHHHH 😭😭😭

Segerakanlah pertolongan-Mu. 

Redakan semua rasa sakit saudara-saudara kami di Gaza dan Palestina. Muliakan mereka, muliakan mereka, muliakan mereka Yaa Rabb


Mengapa Sulit Untukku Merasa 'Cocok'

Thursday, October 10, 2024

 Seramah-ramah nya aku, atau se se runya aku menurut orang lain, sebenernya aku tipe orang yang NGGAK GAMPANG COCOK sama orang lain. 


Kadang, aku juga mikir ‘kenapa ya aku bisa se susah ini orangnya?’


Banyak yang bilang aku ramah. Tapi ramah belum tentu gampang beradaptasi. Aku, termasuk slow learner. Lambat banget untuk menyesuaikan diri. Mungkin nggak terlalu kelihatan karena terkaburkan dengan sifat ‘ramah’ tapi sebenernya kalau aku nggak cocok sama orang, gak suka sama orang, super kelihatan. Simply, aku akan menghindar untuk ngobrol dengan orang tersebut, bahkan cenderung menghindari bertatapan mata dengannya.


Setelah mencoba mikir dan jujur sama diri sendiri, sepertinya kecenderungan nggak cocok sama orang ini adalah efek dari masa sekolah yang banyak nggak dapet tempat buat berekspresi. Hehe


Jadinya ya cenderung menarik diri, daripada “punya efek dibenci” tanpa punya kesiapan mental yang cukup. 


Dulu waktu kelas X SMA guru-guru tu demen banget suka nyuruh kita buat ngasih kritik dan saran ke temen satu kelas pakek kertas terus diputer-puter dan anonim. 


Kalau dipikir-pikir kenapa ya harus pakek kertas? Kenapa murid tu nggak diajarin cara ‘komunikasi yang baik’.


Di kertas itu, aku dapet banyak banget hujatan perkara “NGOMONG” (Orang gak suka banget aku bac*t)


Waktu SMA, aku juga pernah diteriakin cowok di depan muka ku kalau suaraku gak enak. (Dan laki-lai ini sekarang jadi suami temen deketku, LOL)


Pas SMP aku pernah nulis kritik buat guru-guru yang pakek jilbab pendek di mading, waktu itu salah seorang guru (yang aprecciate dengan karyaku) ngumumin kritik tersebut di ruang guru. Akhirnya, di pelajaran OR ada guru yang nyindir aku. 


Waktu SD, aku juga pernah “disidang” karena ada temen yang laporin nggak suka sama aku.


Aku punya fase ‘dibenci’ disetiap masa sekolahku. Walaupun, aku juga punya banyak berkat bakat dan prestasi non akademik. 


Walaupun sekarang aku dengan orang-orang problematik di masa SD-SMA biasa-biasa aja. 

Tapi tanpa aku sadari, kejadian-kejadian itu berdampak sedikit buruk padaku saat dewasa. 


Efeknya, benar-benar berasa ketika aku kuliah. Ketika justru aku punya banyak banget temen-temen baru yang seru, terbuka dan pinter, tapi keberanian berekspresiku justru hilang.


Aku takut, bahkan minder.


Dan mungkin sampai saat ini.


Aku merasa kekuranganku tidak diterima. 

Kelebihanku dianggap kekurangan. 


Sehingga aku cenderung menjauh dari orang yang tidak bisa menerimaku ‘sepaket dengan kekuranganku’.


Ketika aku bertemu dengan orang yang nggak bisa tulus sama aku, aku akan memilih pergi


Ketika aku bertemu dengan orang yang attitude nya minus, daripada kepentok dosa merasa lebih baik, aku lebih memilih pergi. 


Banyak terluka membuat aku sangat berhati-hati memilih orang yang masuk dalam kehidupanku. 


Lebih baik menyadari tidak cocok dan pergi, daripada memaksakan baik tapi hanya berujung terluka, sakit, berkali-kali. 


Aku benar-benar sangat berhati-hati.

Benang Ruwet di Kepala

Thursday, August 1, 2024

 Aku pikir, setelah bapak wafat pada Juli 2021, 3 tahun lalu (ah, cepat sekali ya waktu berlalu, padahal rasanya baru kemarin) ujian berat tidak akan datang ke kehidupanku. 


Aku pikir, ujian-ujian yang singgah akan terasa jauuuh lebih mudah. 


Iyasih, tapi ternyata ada juga ya fase capek dan lelahnya. Hehe


Sekarang aku paham, kenapa banyak orang yang memilih hidupnya private. Tidak ingin punya media sosial, nggak peduli sama orang lain, lebih baik menyendiri, menyibukkan diri dengan ‘egoisme’ pribadi. 


Terkadang memang menghilang itu menenangkan. 


Sepertinya benang ruwet dikepalaku sedang galak menyalak. 


Pusing sekali. 


Jalan mana yang harus ku tempuh? Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana begini dan begitu?


Bising sekali. 

Is my wait worth it?

Thursday, May 30, 2024

Tidak menikah muda, selalu punya cela untuk "dicela"

Tapi dari celaan-celaan ini, lama-lama justru menjadi bahan renungan yang sering kurefleksikan. 


Jika tahun ini aku belum menikah juga, maka aku bisa jadi memiliki waktu kehamilan pertama di atas umur 30 tahun. Dimana secara medis ini beresiko. 


Jika aku tidak menikah di usia muda, artinya aku harus & akan bekerja lebih keras di usia tua pula, mengingat mungkin saat usiaku 60 tahun, anakku masih sekolah


Jika aku tidak menikah muda, kulit ku semakin keriput, tidak kencang dan "tidak menarik" akan semakin 'susah laku' kata orang. Ya memang benar sih. Gurat-gurat di wajahku mulai kentara. Artinya, aku butuh 'extra biaya' untuk merawat tubuh. 


Jika aku tidak menikah muda, otakku justru berkembang semakin dewasa dan logic. Semakin picky, semakin banyak yang dipikirin. Semakin sulit melihat "kecocokan" semakin realistis, tapi kalau kata orang sih 'semakin pilih-pilih'.


Apalagi ya? Banyak deh pokoknya...


So, is my wait worth it?


We never know


Karena kalau mau dicari "pembenarannya" dari beragam sisi, kita akan selalu punya pembenaran.

Mau dari sisi agama, ahli, opini atau apapun itu. 


Aku pernah berada di fase sangat marah ketika urusan rahim ku jadi bahan omongan orang.

Aku pernah di fase sangat menggebu-gebu kepengen nikah umur 19 tahun

Aku pernah berada di moment pengen banget nikah sampe mau nangis

Aku pernah ada pada fase super tersinggung ketika tubuhku dikomentari seperti 'barang dagangan'

Aku juga pernah di fase 'mager banget ngomongin nikah'

Pernah juga ada di fase 'sangat tidak memprioritaskan menikah atau bahkan yaudah lah kalo nggak nikah nggak papa'


Semua gronjalan masalah kawin, beragam opini mulai dari yang konservatif abis sampai pemikiran feminis-liberal sudah pernah keluar masuk otakku. 


Kalau mau cari pembenaran nikah muda ya ada

Kalau mau cari pembenaran 'nikah bukan masalah umur' juga ada

Kalau mau cari pembenaran kesiapan menikah under 30 ya ada

Kalau mau cari pembenaran 'nikah se siapnya, tidak masalah umur' juga ada


Semuanya kalau dicari untuk pembenaran, pasti ketemu. 


Sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa pembenaran tu bener-bener nggak penting dicari kalau hati kita nggak cukup bertaut pada Allah SWT. 


Karena ya jawabannya nggak ada yang pasti. 

Pembenaran-pembenaran ini ada karena informasi, pengalaman setiap orang yang berbeda. Mereka tumbuh, mendengar, melihat, mengumpulkan informasi dari kaca mata yang berbeda.

Manusia terlalu kecil untuk melihat 'keadilan' dengan 'kacamata yang bijaksana'.


Tapi Allah SWT nggak pernah menghakimi kita. Allah tu nggak pernah nggak adil sama ummat-Nya. 


Dan menurutku ini yang jadi PR berat. Mau santai atau mau galau, menurutku yakin sama Allah itu yang paling penting (sekaligus susah). 


Mengsampingkan "mana yang lebih baik" dari kacamata manusia 


Karena demi apapun, cuapeekkkkk bangettttttttttttttttttt. Manusia tu mau sebaik apapun, se bijak apapun, PASTI punya kecenderungan. Tapi Allah tu enggak. Kecenderungan-Nya tu ya "Sini-sini hambaku, kamu kenapa?" Allah ngedengerin kita tanpa nge judge. 


Sebenernya nggak cuma nikah, tapi dalam hal apapun mau kerjaan, anak, orang tua, hal receh pilih beli X atau enggak, better emang melibatkan Allah SWT. 


Mungkin bertanya pada ahli tu bagian dari ikhtiar ya, tapi seharusnya ikhtiar pertama tu ya nanya sama Allah SWT. 

Allah yang lebih tahu jawabannya.


Seorang ustaz pernah ngasih penjelasan yang bagus bangettttttttt, kira-kira begini:


Kita itu nggak akan pernah "dihisab" sama apa yang menjadi takdir kita. tapi kita akan "dihisab" sama apa yang kita lakukan di dunia ini. 

Fokus kita tu cuma di "hasil" tapi dalam menjalani proses nya justru nggak pernah kita perhatikan, padahal 'proses' yang akan dihisab. 


So, is my wait worth it?


We never know, mungkin tulisan ini akan bersambung dan berkembang


BUT 1 thing is remembered


At the end of the day, for everthing that we do, did or wait, everything will be worth it if the process is always get closer to good things. 


Saling ngedoain untuk hal-hal baik, semoga apa yang kita kerjain di dunia ini semuanya WORTH IT. Aamiin

Dear My Future Husband

Saturday, May 25, 2024

Untukmu orang yang memilihku, dan ku pilih dengan penantian yang panjang

Dengan istikharah yang berulang-ulang

Dengan restu ibu dan waliku

Dengan doa yang kusambung dengan penuh kesabaran, ketenangan, bahkan mungkin sesekali dengan sekaan air mata.


Aku, perempuanmu

Bantu aku untuk berubah menjadi taat dan baik dengan versi terbaik

Bantu aku menjadi perempuan yang engkau ridhai lahir batin dunia akhirat

Bantu aku menjadi isteri, sekaligus ibu yang bisa menjadi “rumah” terbaik untukmu, juga anak-anak kita

Bantu aku menjadi anak sekaligus mantu yang bisa hormat dengan kedua orang tua kita

Bantu aku menjadi perempuan-mu yang kau banggakan, kau cintai dengan penuh dan utuh

Bantu aku menjadi salehah


Wahai laki-laki yang ku pilih menjadi masa depanku,

Rumah tangga kita mungkin tidak 100 persen sempurna

Mungkin kekuranganku, lisan perbuatanku, aibku sungguh banyak

Mungkin engkau akan menemukan kecewa dalam diriku

Mungkin engkau akan menemukan ekspektasi yang membuatmu sedih

Mungkin engkau akan menjumpai kerikil-kerikil kecil dalam menjadi pemimpin

Tapi bolehkah aku memohon untuk tidak menyerah?

Maukah engkau menggengam tanganku untuk bersama-sama melewatinya?

Maukah engkau membimbingku dengan penuh kelembutan dan penghormatan?

Sebagaimana Rasulullah mencintai Khadijah dan Aisyah?


Kau ku pilih dengan penantian yang tidak sebentar

Mari tumbuh bersama

Membangun sakinnah, mawadah, warohmah

Membangun taman surga dengan keindahan yang kita yakini dengan hati kita sendiri


Wahai laki-laki yang ku pilih, 

Pelayaran kita masih jauh

Semoga cinta kita terus bersemi menyelami samudera keridhaan-Nya


Jika Hidup Ini Tak Perlu Bekerja Keras, Maka Lahirlah Menjadi Cipung

Thursday, May 2, 2024

Lebih dari sekadar watak, tanggung jawab adalah skill wajib yang harus dimiliki setiap individu bernyawa.

Betapa dunia ini sangat repot dan acak adut bukan karena jumlahnya yang meledak

-melainkan- watak penduduknya yang acuh dengan tanggung jawab?

Terutama mereka yang menyebut diri mereka DEWASA.


***


Terlepas dari keadaan yang sering dijadikan alasan ‘qadarullah’ (takdir, nasib, cobaan, ujian, azab, dsb)

Abai adalah penyakit. Menahun. 

Tidak sadar penyakit ini menular, merusak, membuat BERANTAKAN. 


Seorang bercerita, saat di kampus dulu ada seorang ketua pelaksana acara yang mangkir dari tanggung jawabnya. Membuat acara berantakan, rugi, para anggota terpaksa nombok.


Seorang lagi bercerita, salah seorang karyawan perusahaan miliknya bermalas-malasan sehingga membuat kawan satu tim kelimpungan. Menambal kekurangan pekerjaannya, bekerja lebih lembur tanpa tambahan bayaran. Merepotkan sekali. 


Seorang perawat bercerita, tentang seorang ibu yang abai pada kondisi anak, tidak mau belajar, malas, merasa paling tahu, ngeyel akhirnya menyesal setelah sang anak sakit parah


Seorang anak bercerita tentang ayahnya yang tidak pernah memberi nafkah, malas, kerjaannya hanya nongkrong di pos kamling, merokok, bermain gaple. Rumah tangganya rusak, ribut, suasana rumah sumpek, seperti neraka. Sang anak tumbuh tanpa teladan ayah yang baik, fatherless. 


Abai adalah tidak -berusaha- sebaik-baiknya melakukan tugas, peran, yang secara sadar telah ia pilih.

Abai adalah cuek, nggak peka, nggak sadar diri sama kewajiban yang harus ia kerjakan

Abai adalah tidak tanggung jawab.


MEREPOTKAN. BIKIN BERANTAKAN. 


Sekuat tenaga diri ini berfikir, berusaha berlapang dada, memberi banyak uzur, tidak suuzon bila bertemu dengan orang kelewat santai. Tapi pada akhirnya orang-orang seperti ini bukan sedang ada uzur, melainkan wataknya yang memang ignorance. Malas, abai, nggak merasa 'penting' untuk menyelesaikan amanah.


***


Hidup ini keras, memang benar adanya. Teringat sebulan yang lalu saya habis melakukan operasi. Kesulitan duduk, tiduran juga nggak enak. Tapi kerjaan saya nulis. Duduk di depan laptop. Untung masih WFH. Sehingga saya masih bisa berganti-ganti posisi mulai dari berdiri, duduk miring, rebahan, dan lain sebagainya.


Sebagai karyawan biasa dan punya target yang harus dicapai, saya sadar sepenuhnya bila menunggu saya sembuh total, pekerjaan akan semakin numpuk, pencapaian target akan semakin sulit dikejar. Akan menyulitkan orang lain juga.


Toh, saya masih bisa sedikit-sedikit menulis. Yaudahlah masuk aja. Itung-itung latihan. 


Namun di dimensi lain, saya menyimpan perasaan kesal. Dengan manusia-manusia yang -menurut- saya kelewat santai dalam melakukan tugas-tugas mereka.


Bagi mereka, ‘nggak perlu bekerja terlalu keras’ 

‘Santai aja’


Sialan, batin saya.


Apakah jika bersantai, mereka akan membantu saya untuk bertahan hidup? Menyelesaikan semua tugas-tugas saya? Faktanya tidak. 


Santai adalah satu dari gunungan alasan menutupi rasa malas. Jika malas untuk diri sendiri, tidak akan terlalu jadi masalah. Namun bagaimana jika rasa malas, abai tersebut merugikan orang lain?


-berusaha- bekerja, tidak harus keras, setidaknya mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya adalah bentuk tanggung jawab. 


Jika Hidup Ini Tak Perlu Bekerja Keras, Maka Lahirlah Menjadi Cipung.


Bahkan Cipung pun harus bangun pagi untuk shooting.

Dan kamu masih bisa bersantai?


Hey lihatlah tumpukan kertas di depan mejamu, 


Bangun, kerjakan! 


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS