Burung yang Hinggap di Jendela Kamarku Hari ini pun Tahu, Betapa Sesak Rindu yang Bergelantungan di Sudut Kamarku

Saturday, October 31, 2026

Aku tidak pernah membuka mata segelap ini

Hanya ada abu kelabu dalam pandanganku

Aku memilih menarik selimutku, membiarkan badanku terbaring dan memejamkan kembali mataku 


"Aku tidak ingin membuka mataku, Tuhan, bisakah aku menutup mata lebih lama atau jika bisa, jangan buat aku terbangun selamanya"


Seekor burung datang hinggap di jendela kamarku, mengepakkan dua sayapnya yang lusuh dan basah, hujan rupanya. 

Ia menggeser tirai kamarku sedikit membuat cahaya matahari menusuk mataku yang lengket.


Sialan.


Aku hanya ingin tidur. Aku tidak ingin bangun dan terbangun. 


Aku ingin menutup semua lembaran kisah yang pernah kutorehkan. Sepenuhnya. 


Mengapa aku harus bangun jika semua jalan yang ku lalui selalu berujung pada gagal dan perpisahan


Mencintai itu melelahkan. 

Setidaknya cinta itu telah merampok hidupku. 


Aku mencintai dalam kebisuan, dengan telan-telan yang begitu nyeri di kerongkongan


Aku mencintai dengan otak yang lumpuh, dipenjara oleh pikiran yang mentok pada angan-angan


Cinta telah membuatku pekak pada suara, menyisakan ruang tangis dari bibir ku yang tergugu


Barangkali seperti lagu Ed Sheran: 


Loving can hurt, loving can hurt sometimes

But it's the only thing that I know

When it gets hard, you know it can get hard sometimes

It is the only thing that makes us feel alive


Sialnya. mencintaimu dengan sakit, membuatku hidup


22 Oktober 2026

No comments:

Post a Comment

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS