Resign
Sunday, April 18, 2021
Sunday, March 28, 2021
Hidup ini kita yang menjalani, setiap keputusan dan langkah yang kita ambil, ya kita sendiri yang akan bertanggung jawab dan mengunduh hasilnya (whatever it is).
Jadi, nggak perlu terlalu repot-repot memikirkan omongan orang lain.
Nggak perlu memusingkan pertanyaan, pernyataan, dan penilaian orang lain.
Buat apa?
Mereka sedikitpun tidak akan berkontribusi untuk kebahagiaan dan keberlangsungan hidupmu.
Fokus menjadi diri sendiri, mencintai diri sendiri dengan versi terbaikmu
Dunia ini terlalu sempit untuk mereka yang terlalu longgar mengomentari orang lain. Hehe
---
Note:
Bodoamat tidak sama dengan anti kritik.
Saran dan kritik itu ada adabnya, ada caranya. Orang yang betul-betul peduli pada dirimu, akan memperhatikan bagaimana dan kapan waktu terbaik untuk menyampaikan masukan-masukannya.
Friday, March 12, 2021
Mengutarakan opini dan berpendapat bagi seorang perempuan kerapkali dianggap sebuah perbuatan yang tidak lazim.
Perempuan yang lantang bersuara tak jarang dirundung dengan predikat 'galak' 'susah diatur' 'crewet' dan segudang sterotipe tak mengenakkan lainnya.
Padahal, untuk mengumpulkan keberanian saja sungguh bukan perkara mudah.
Keberanian adalah sebuah proses menguatkan diri sendiri. Meyakinkan diri sendiri untuk melangkah maju meski tak jarang dihinggapi perasaan takut dan cemas.
Bersuara itu bukan untuk merasa menjadi super power, bersuara adalah melebarkan pandangan dan membangun sebuah diskursus yang lebih bijaksana.
Bukankah dunia ini begitu luas dengan beragam kekayaan pikiran dan sudut pandang?
Berani bersuara bukan kekurangan.
Bersuara adalah modal membangun peradaban.
Kalau kata Oprah Winfrey & Najwa Shihab 'You get in life what you have the courage to ask for' (Oprah Winfrey)
'Keberanian kamu untuk mengungkapkan apa yang kamu mau dan kamu anggap penting itu yang akan kamu dapatkan dalam hidup.
Kita hidup cuma satu kali, jadi kalau kita mau dapet sesuatu, mau mengubah sesuatu, mau membangun sesuatu, mau dimengerti ,pilihannya cuma satu, 'BERANI BICARA'. (Najwa Shihab)
Sunday, January 17, 2021
Ketika perempuan memiliki cita-cita yang 'tinggi'
Maka seketika itu pula ia menjadi aib
Seolah-olah perempuan harus dan 'hanya boleh' memiliki kapasitas rata-rata BUKAN 'diatas rata-rata'
Tak jarang pula urusan cita dan domestik selalu dibentur-benturkan
Seolah keduanya tak akan pernah berjalanan beriringan
Mereka yang memilih untuk menjadi 'pahlawan rumah', sering dianggap lemah dan tak berdaya
Pun mereka yang memilih turut berjuang dengan cita selalu saja dianggap tak maksimal dalam memegang peran rumah tangga
Perempuan selalu saja menjadi ajang perdebatan
Tak akan pernah usai, sampai kita 'seharusnya' bisa saling memahami, menghormati dan bertumbuh dengan dewasa
bahwa apapun pilihan perempuan,
melemahkan, menyepelekan, menertawakan, menyindir, dan menyudutkan bukanlah tindakan yang patut dibenarkan.
Thursday, December 31, 2020
2020...
Begitu banyak yang terjadi, hingga kata yang disusun pun terasa kelu untuk dibagi
Cerita tentang cinta, cita, dan rencana yang pupus nyaris tak bersisa
Harapan yang kini menjadi angan
Masa depan yang terasa begitu suram
Hingga segala doa yang dipanjat rasanya begitu jauuhh dengan kenyataan
Sungguh berat untuk mengatakan tidak pada perasaan lelah yang begitu dalam
Mereka yang terpaksa menunda lamaran dan pernikahan
Mereka yang kehilangan pekerjaan dan sulit memenuhi kebutuhan
Mereka yang terpaksa lulus menjadi 'angkatan corona' dan begitu terjal berjalan meraih impian
Mereka yang bertarung nyawa untuk menyelamatkan sesama
Dan mungkin,
Aku dan kamu yang masih terombang ambing pada segala kerumitan hidup yang terjadi
Ah, 2020 memang menjadi momentum berjuang untuk kita semua . .
Meski badai keterputusasaan begitu dalam menghujam,
Semoga masih ada asa untuk bertahan
Monday, December 28, 2020
Mungkin ini aneh, tapi terkadang momentum membahagiakan yang sedang kita rasakan, tidak perlu terlalu masif untuk kita bagi (Meskipun benar adanya bahwa apa yang kita unggah dalam dunia maya 100% adalah hak kita) π
Terkadang, kita perlu melihat sisi lain, bahwa kebahagiaan yang kita bagi, bisa menjadi pedang yang sangat menyakitkan bagi orang lain.
Itulah kenapa salah satu alasan saat sidang dan wisuda, aku cenderung memilih untuk menyembunyikan dan tidak memposting apapun di social media.
Sederhana saja alasannya, menjaga mereka yang mungkin hati dan raganya sedang tertatih dalam berjuang di medan yang sama.
Mengapa memilih 'menjaga' ?
Personal reason.
Berangkat dari 2014 silam, salah satu titik balik kehidupan dimana di usia 18 tahun ditempa kegagalan yang begitu menghujam.
rasanya seperti jatuh dari pohon yang tinggi ditambah ketimpa buah durian.
Sudahlah gagal meraih impian, masih harus menyaksikan begitu riuh kesenangan orang lain atas keberhasilan mereka di berbagai media platform.
Tidak, perasaan itu bukan iri, lebih kepada proses panjang untuk menerima kekurangan diri.
melihat orang lain berhasil, membuat kita cenderung 'menyalahkan diri sendiri'
Membuat kita menjadi sering bertanya 'kenapa orang lain bisa aku tidak bisa?'
Membuat kita terus bertanya 'mengapa harus aku?'
Dan tanpa sadar, itu melukai diri kita sendiri.
Karena tahu pahitnya terpuruk dalam kebahagiaan orang lain, aku berjanji untuk lebih berhati-hati saat berbahagia.
Dan ternyata . .
bahagia dalam diam tidak akan pernah mengurangi sedikitpun perasaan bahagia itu sendiri. Justru, rasanya jauh lebih membahagiakan. Karena perasaan tersebut hanya kita bagi dengan sang pemiliki hati, Alloh SWT dengan banyak bersyukur.
Spread love untuk siapapun yang sedang berjuang di jalan apapun ❤️
selagi itu baik, go! π
Wednesday, December 9, 2020
Menjadi perempuan itu rumit.
Berdandan sederhana dibilang kusut gak perhatian dengan penampilan
Berias tebal sedikit, ada aja komentarnya
'ih gonjreng banget, gaenak diliat'
'ih warna lipstiknya serem banget kayak nenek lampir'
Menjadi perempuan itu rumit.
Pakai parfume dikatain 'ih wangi banget sih'
Tapi kalo gak wangi, digunjingin 'jadi cewek kok bau'
Menjadi perempuan itu rumit.
Terlalu pintar salah, gapintar-pintar amat juga salah
Menjadi perempuan itu rumit.
Terlalu lembut dibilang 'lemah', tapi kalau berprinsip dan independen dibilang 'terlalu mendominasi'
Menjadi perempuan itu rumit.
Nggak punya pasangan dibilang gak laku, terlalu pilih-pilih, terlalu mikirin karir dan sekolah ketinggian
Menjadi perempuan itu rumit
Punya pasangan cepet dibilang ngebet banget
Menjadi perempuan itu sangat rumit.
Ke kanan atau ke kiri selalu saja dikomentari.
***
Sudut pandang yang sempit, minim empati,dan ketidakterbukaan pada sudut pandang orang lain membuat kita gelap mata, bahwa hidup ini seperti potongan cerita yang kita tuliskan dengan cara dan keputusan yang berbeda-beda.
Mari mengurangi berbicara tentang kerumitan perempuan.
Ingin menjadi perempuan seperti apa dan bagaimana bukan urusan kita untuk menjadi juri dan hakim untuknya
Mari tetap saling menghormati, tidak sembarangan dan serampangan dalam berbicara atau bercanda.
Kalaupun ingin menasihati dan memberi saran bila tidak sesuai dengan (misalnya norma-norma/nilai Agama) upayakan untuk diimbangi dengan cara dan sikap yang bijaksana.
Kita semua sama. Sama sama perempuan, sama-sama manusia


