29

Monday, March 24, 2025

 Tidak banyak yang kupinta


Aku hanya ingin dicukupkan hatiku dengan kehadiran-Nya


Terkadang aku kelelahan dengan diriku sendiri. 


Bersikap baik sering dihajar kecewa, karena tulusku ternyata tak cukup kuat


Memegang prinsip erat-erat pun kerap dianggap "terlalu" keras kepala


Tak ada orang yang benar-benar mengerti aku, dengan segala hal rumit dikepalaku


Tapi itu membuat perjalanan hidupku sebenarnya banyak makna


Karena memangnya siapa yang bilang manusia akan mengerti? 


Kita semua memiliki egoisme

Kita semua memiliki kekurangan


Maka hati ini perlu ditempa

Dengan hal-hal menyakitkan, dengan banyak hal yang membuat kita marah, muak, kecewa, jatuh, bahkan tersiksa


Maka dengan hal tersebut, kita tahu kepada siapa kita seharusnya berlepas diri

Ragam Efek Duka

Thursday, January 16, 2025

Hari ini ngobrol sama orang yang qadarullah ayahnya udah nggak ada.
Di tengah obrolan ada sedikit yang mendesir di hatiku. "Ini orang ngomong sangat to the point dan terlalu realistis banget deh. Nggak di filter. Kayak ngomong flat tanpa ada rasa. Nggak jahat sih, bukan nir empati juga, tapi "anyep"."

Aku mikir lagi "Bukankah seharusnya orang yang pernah merasakan duka dan banyak kepahitan hidup empatinya jadi makin terasah ya"

Tapi ternyata enggak selalu. Duka ternyata punya 'efek samping' yang beragam. Bisa jadi juga, orang semakin keras, semakin anyep bukan karena dia jahat. Tapi dia sudah terlalu jauh melalui hari-hari yang berat. 

Aku sempat memprotes "Kamu ngomong tuh nggak ada sensitivitasnya ya"

"Iya, aku orangnya dingin. Aku udah berusaha merubah, tapi pasti balik lagi. Aku natural nya begini"

Hmm, alih-alih marah, aku justru sedih sama dia :( kayak 'apa mungkin selama ini dia nggak terbiasa tervalidasi ya perasaannya, sampe sebegini anyep nya'


Memahami orang lain dan mengedepankan postive thinking tuh enak banget ya. Nggak ada ganjelan di hati, pandangan juga jadi indah aja gitu. 

Tapi dasarnya ini bocah emang baik sih. Hehe

Yaa pada akhirnya, "baik" itu sebuah bahasa yang akan selalu sampai di hati se berbeda apapun karakter, sifat, bangsa, negara, bentuk rupa, tubuh  dan apapun itu. 

Duh nulis begini saja aku berkaca-kaca. Hehe

Suara Hati Orang Ramah

Monday, December 23, 2024

Kemarin ada temen yang curhat habis reach out salah satu temen lamanya tapi malah dibalas dengan jawaban yang bisa dibilang nggak mengenakan hati. 


Cuek, jutek, ketus. 


Waktu itu aku cuma bilang gini ke dia "Aku kalo jadi kamu, aku juga kesel. Uanyel. Tapi X (kusebut nama temenku), kita harus tahu bahwa ngga semua orang suka dengan karakter orang yang ramah. Nggak semua orang cocok sama orang ceria kayak kita, nggak semua orang suka di reach out sama temen lamanya. Apalagi kesannya 'lo dateng disaat lo butuh aja' aku paham niat mu bukan memanfaatkan, tapi sekali lagi gak semua orang seneng dengan cara kita berinteraksi."


Aku lumayan ngomelin temenku ini, karena sebenernya ini bukan kejadian pertama dia dijutekin sama temennya. 

Tapi masih aja reach out. 


Buat aku pribadi, aku menyadari bahwa ngga semua orang suka sama karakter orang yang friendly (ramah) atau ceria.


Ya nggak papa juga, gak semua harus cocok. Tapi please jangan terus direspon seenaknya. 

Orang ramah juga punya perasaan kali :( 

Belajar lah buat merespons sesuatu dengan baik. Nyesuein lawan bicaramu. (Inget ya ini POV orang ramah). 


Kalau ngga setuju, nggak suka sampaikan dengan cara yang santun. Pilih kalimat yang menenangkan bukan menyakitkan. 

Jangan dikacangin juga, atau sengaja banget chat gadibales :( ayukk belajar respect satu sama lain :( 


Atau bisa gitu disampaikan dengan cara yang baik kenapa kok jawabnya gitu. 


Jujur, jadi orang ramah, friendly, badut antar geng yang suka jadi bahan pencair suasana kadang tu cape kalo direspon dengan cuek dan jutek :' jadi please yuk bisa yuk belajar komunikasi yang menghangatkan satu sama lain 🩷


***


Ah aku jadi inget suatu momen yang bikin aku agak sadar bahwa komunikasi yang baik tu emang harus saling diusahakan. 

Yaitu pas dapet partner kerja yang Masyaa Allah FLAAATTTTTTTT pooollll bener2 mentok banget komunikasinya. Super SPJ( singkat, padat, jelas). 


Pusing dah tu karena aku jadi berasumsi, nggak enakan, takut, bingung, nggak cocok, dll.


Tapi waktu itu mungkin karena kepentok keadaan ya jadinya aku mau effort lebih. 

Akhirnya aku memberanikan diri buat ngebercandain, ngajak ngobrol, main tebak-tebakkan, tanya-tanya YAAAMPUUUUUNNNN effort banget dulu. Bahkan aku sama temenku sampe kongkalikong ngerjain dia biar suasana cair. Semua semata-mata demi komunikasi lancar. LOL


Walopun gak signifikan berubah, tapi ngaruh loh. Sekarang orangnya bisa jauh lebih komunikatif, bisa bercanda. Bahkan sampe beberapa temen bilang "eh si Y sekarang mendingan deh komunikasinya" 

Bangga banget bisa naklukin orang FLAT. Heheh


Tapi aku sadar, ini bukan karena aku sendiri. Selain karena kebetulan ada temen lain yang bisa ku ajak ngebanyol bareng, si orang SPJ ini juga mau berubah. Menyesuaikan diri buat lebih aktif dan komunikatif  


Komunikasi yang baik salah satunya harus dimulai dari ego yang diturunkan.

Tentang Komunikasi

Sunday, December 22, 2024

 Suatu hari disebuah pengajian, kami kehadiran orang yang *maaf agak aneh. Mungkin kasarnya, kita nyebut mereka adalah 'orang freak'. 

Saat itu kami tanpa bermaksud mengejek, ngempet ketawa. Sekali lagi bukan untuk mengejek, tapi kami kehilangan petunjuk bagaimana seharusnya bersikap meskipun kami pun tetap menanggapinya dengan sopan. 


Setelah itu aku menanyakan keada seorang mahasiswa S2 psikologi tentang bagaimana seharusnya merespon/bersikap bila berhadapan dengan 'orang freak'. Temenku yang calon psikolog menjawab bahwa ya nggak punya pilihan lain selain tetap merespon. Menghargai keberadaan dia. 


Saat itu aku belum terlalu paham meski mengiyakan. 


***


Beberapa waktu lalu, aku selesai membaca sebuah buku sirah Nabi yang ditulis dengan bahasa - bahasa sederhana. Judul bukunya "Meeting Muhammad" Karya Ustaz Oemar Sulaeman. 


Dalam buku tersebut dijelaskan salah satu kisah bagaimana Rasulullah bersikap kepada ummatnya. Salah satunya adalah kepada seorang wanita yang ternyata setengah gila. Rasulullah TIDAK PERNAH menghardik, menyepelekan atau merendahkan orang ini. Saat orang agak gila ini berbicara, Rasulullah pun mendengarkan dan merespon dengan hormat. (Kalau ada yang udah baca buku ini please CMIIW) 


Dari sini, kita belajar 


Setiap orang punya hak yang sama untuk diperlakukan dengan BAIK dan SANTUN. 

Bahkan kepada orang yang kewarasannya nggak sempurna. 


APALAGI sama orang yang memiliki akal dan emosional yang normal. 


Janganlah bermudah-mudahan menyakiti orang lain. Apalagi jadiin kebiasaan?


Komunikasi yang baik itu memang membutuhkan banyak aspek untuk dipahami. 

Bahkan menurutku, sebelum komunikasi, kita itu harus bisa understanding dulu. 


Ngerti dulu karakter/sifat nya, budayanya, latar belakang nya, dll. 


Sehingga respon atau cara penyampaian pesan kita tu bisa disesuaikan. 


Dan ini tu memang harus dilatih. Harus banyak jam terbang ketemu beragam manusia dengan perbedaan yang macem-macem. 


TAPI yaaa, pun kita cuek, sulit memahami orang, dll


Kita itu punya naluri. Ada sebuah hubungan perasaan antar manusia yang nggak bisa dijelaskan tapi kita tahu, bahwa naluri selalu menghantarkan pada hal-hal baik. Termasuk berkomunikasi. 


"Kindness is the language which the deaf can hear and the blind can see"


-Mark Twain-


Jadi yaaa sebenernya bisa kok komunikasi dengan baik tuh. Merespon obrolan dengan baik tu bisaaaa. 


Asal mau nyoba, nurunin ego dan latihan.

Rinduku Dibayar Tuntas

Monday, November 18, 2024

Dengan bayang-bayangnya yang menari di pikiranku
Dengan tidur yang gagal nyenyak
Dengan senyum yang sepaket dengan airmata (juga)
Dengan teriakan-teriakan kecil yang kututupi dengan bantal
Dengan harap-cemas-harap cemas yang tak terhitung bilangnya

Siksaan yang indah, katanya.

Tentang Palestina, Siapa yang Seharusnya Paling Marah & Bersedih?

Sunday, November 10, 2024

Sebenarnya, aku marah dengan banyak orang yang memilih diam dan tidak mengambil peran untuk menyuarakan Palestina. Termasuk keluarga dan teman-teman ku sendiri. Aku kecewa, meski tidak mengatakannya secara langsung. 

Kali ini, untuk Palestina, kita seharusnya  bergerak dengan terang-terangan, menyebarluaskan amalan ke-Palestina-an sekencang mungkin, dan TIDAK MEREMEHKAN usaha sekeciiil apapun, termasuk bersuara. 

Bukankah memang sudah saatnya ummat Islam bersatu? 

Jika kita terus terbelenggu dalam pikiran yang egois, tidak menjadikan issue Palestina sebagai sesuatu hal yang penting, lantas mau sampai kapan kamu melihat ummat Muhammad terus dibantai dan dibunuh? 

***

Saat melihat bayi-bayi mati tergeletak di tanah, anak-anak yang menjerit kelaparan, bocah-bocah lugu tanpa dosa dibunuh? Siapa yang seharusnya berteriak paling marah?

Tentu, mereka yang menyebut dirinya “Ayah dan Ibu.”

Saat melihat orang tua dibuka bajunya, tersungkur, kesakitan, diperlakukan tidak patut. Siapa yang seharusnya paling marah? 

Tentu, mereka yang menyebut dirinya “anak”

Saat melihat perempuan suci dilecehkan? Laki-laki penuh kehormatan dilecehkan?

Siapa yang seharusnya paling marah?

Ayah, ibu, saudara kandung, kerabat, isteri dan suami tentu menjadi orang yang siap menyambit mereka dengan celurit panjang. 

Saat para dokter, nakes, paramedis disandera diancam kehidupannya? 

Siapa yang seharusnya terusik? 

Tentu seharusnya mereka yang menyebut dirinya “sejawat”

Saat para jurnalis dibunuh, dibungkam suaranya

Siapa yang seharusnya paling marah, protes, dan geram? 

Tentu seharusnya ‘sesama’ jurnalis yang paling lantang menyuarakan solidaritas. 

Para ibu dan perempuan yang tidak punya ruang aman untuk melahirkan, mengasihi, dan HAID

Siapa yang seharusnya paling marah? 

Para perempuan, organisasi keperempuanan, bukan? 

Lalu, sesungguhnya apa & bagaimana peran kita semua? 

Bukankah kita sebenarnya juga menggenggam peran yang sama dengan mereka, lantas mengapa memilih bungkam? Dan aduhai enak sekali menjadi penonton pembunuhan

Sekali lagi,

Bukankah seharusnya kita menjadi orang paling yang geram, terusik dan marah? 

Bahkan b*j*ng*n tak akan pernah cukup untuk menggambarkan kebiadaban Z10n15. 

Sayang,

Nurani (kita) lumpuh, Iman dan islam pun rapuh. 

Jangankan berbicara tentang ‘pembebasan’  Al Aqsa, jauh sekali rasanya.

Lawong membicarakan dalam ruang "kemanusiaan saja" kelu. 

Aku pun hanya bisa mengaminkan, mengakui kelemahan, 

Dimana ummat Muhammad?

Ia banyak, namun seperti BUIH DI LAUTAN.

Menangisi Palestina

Thursday, November 7, 2024

Aku selalu tidak kuat, saat mereka memekikkan kalimat:

“Akan aku adukan UMMAT ISLAM pada ALLAH”

“YAA RASULULLAH, JANGAN KAU BERIKAN SYAFAAT UNTUK ARAB, UNTUK MUSLIM, MEREKA MEMBIARKAN KAMI MATI.”

Aku takut. 
Aku takut menjadi salah satu dari mereka yang dikutuk karena membiarkan Palestina sengsara di bawah penjajahan. 
Aku takut, tapi bukankah kita semua pantas mendapatkan kemarahan dari rakyat Palestina? 😭

***

Di sisi lain,
Hati ku juga PORAK PORANDA, saat justru mereka yang memberikan penghiburan untukku, untuk kita. 

“Terima kasih” ucap mereka saat aku menjelaskan pada mereka bahwa aku dan teman-temanku memiliki project kecil-kecilan untuk raise awareness tentang Palestina. 

“Ayo bicarakan hal lain, aku selalu melihat kamu bersedih saat membicarakan tentang Gaza,” ucap seorang teman online menenangkanku dari Khan Younis, Gaza, Palestina

Bagaimana bisa mereka yang mencoba membesarkan hatiku disaat merekalah yang hidup jauh lebih sulit dariku. 

YA ALLAH
YA ALLAH
YA ALLAH
YAAA ALLAAAHHHHHHH 😭😭😭

Segerakanlah pertolongan-Mu. 

Redakan semua rasa sakit saudara-saudara kami di Gaza dan Palestina. Muliakan mereka, muliakan mereka, muliakan mereka Yaa Rabb


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS