Startup #Drama #Episode6

Monday, November 2, 2020

Salah satu scene dan quote paling nampol di drama #Startup episode 6 kali ini :')

Meskipun di scene terakhir percakapan mereka berdua, sedikit menyisakan rasa penasaran,

'Seo Dalmi, kau mau menjadi apa? orang baik atau CEO? Jangan serakah, tak bisa keduanya. Pilih salah satu, hanya satu.'

Sungguh menimbulkan pertanyaan untuk diriku, apakah seorang (CEO) tidak akan pernah bisa menjadi seorang pemimpin yang 'baik' hanya karena dia adalah seorang penentu dalam pengambilan keputusan?

Di sisi lain, seorang pemimpin memang harus tegas, punya pendirian, dan 'berani' mengambil keputusan termasuk resiko untuk di kritik, dicaci bahkan mungkin dibenci.

Antara baik dan berani,

Mungkin nggak sih sebenernya 2 hal ini berjalan bersamaan? :')

Whats your opinion guys? :')

Belajar Menghargai Pekerjaan Orang Lain

Monday, October 26, 2020

Hargailah pekerjaan orang lain, meskipun mata kita memandang pekerjaan tersebut (terlihat) sangat 'mudah' dilakukan.


'enak ya kerjaan nya cuma gitu doang'

'ih kerjaan nya cuma gitu aja? Gitu doang aku juga mau'

'kerjaannya gitu doang? enak ya, gak kayak aku yang ...'


Kadang kita secara tidak sadar menyudutkan pekerjaan orang lain, membuat orang merasa kecil dan terluka atas secuil perjuangan yang dilaluinya

Padahal, pekerjaan apapun itu pasti butuh usaha, butuh energi,  butuh waktu, butuh pengorbanan, and WE NEVER KNOW HOW HARD PEOPLE THROUGH IT ALL :')

Bahkan untuk mendapatkan sebuah kata 'bekerja' itu sendiri, kadang seseorang harus melalui berbagai macam rintangan.


Mari saling menghargai dan mendukung pekerjaan orang lain, pekerjaan teman dan orang terdekat kita, syukur bisa saling menguatkan dan mendoakan. Hindari sikut menyikut, merundung, menyakiti dan meremehkan 😊

Semoga Alloh SWT senantiasa meluaskan hati dan pikiran kita agar selalu berbuat baik serta bekerja penuh dengan Keridhoan-Nya 😊🙏


Btw, tulisan ini berangkat dari sebuah pelajaran yang kualami sendiri. Saat aku pernah 'membatin' pekerjaan temanku,

'kerjaan nya kayak gampang bangettt' 'kerjaannya gitu doang?' 'masak ngerjain gitu aja lama si?'

Tahu apa yang terjadi? 

Saat aku mendapatkan tugas untuk mengerjakan pekerjaan yang SAMA (persis) dengan temanku, aku mengalami kebingungan, berkali-kali melakukan kesalahan, dan mungkin aku belum bisa menyelesaikan pekerjaan ku lebih cepat dari temanku :')


See?


Maka benar lah kata seorang bijak, kita tidak akan pernah tahu rasanya menjadi seseorang sampai kita benar-benar menjadi seorang tersebut.


Maka, empati dan menghormati adalah kunci 😉

Hospital Playlist dan Persahabatan

Sunday, September 20, 2020

Dalam drama Hospital Playlist kita belajar, bahwa menjalin persahabatan yang indah justru bisa dilakukan dengan cara-cara yang sangat sangat sederhana.


Tidak harus ada disetiap waktu, namun selalu menyempatkan waktu untuk bercerita, bertanya, mendukung, menguatkan, dan mendengarkan segala kisah, rasa, perjalanan, dan momentum penting dalam kehidupan.

Investasi "Leher ke Atas"

Sunday, July 12, 2020

Dulu, aku termasuk orang yang rada-rada sering bilang,"duh seminar nya kok mahal banget" "duh pelatihan kayak gitu doang kok mesti harga nya mihil-mihil yaaa"
sampai akhirnya aku tersadar, bahwa yang namanya investasi "leher ke atas"itu memang nggak murah dan nggak mudah, karena memang nggak semua orang MAU berinvestasi disana, apalagi anak muda.

Kalau dipikir-pikir yaa, kita tuh cenderung lebih suka menghabiskan uang yang kita punya untuk sesuatu hal yang konsumtif dan rekreatif nggak sih ?
Kayak misalnya jajan, nongkrong, beli boba mahal terus di story *eh >< wkwk
Nggak sepenuhnya salah sih, kalau hal-hal tersebut untuk reward diri, healing, me time yang sifatnya nggak 'jor-joran'
Yang jadi masalah adalah, kita cenderung rela menghabiskan uang kita untuk hal-hal konsumtif yang fungsi nya jangka pendek, daripada menggunakannya untuk mengasah kemampuan diri, yang memang 'manfaatnya untuk jangka panjang' 
Mudahnya, kalau jajan dan nongkrong, nikmatnya langsung terasa, kalau belajar dan sekolah ? Pasti butuh waktu yang tidak sebentar untuk betul-betul 'mengunduh manfaatnya' alias nggak bisa langsung dinikmatin

Ada satu perkataan Kurniawan Gunadi yang cukup menampar diri ku tentang hal ini.
"Kenapa sih kalian harus pelit sama diri sendiri? Coba lihat orang tua kalian! Mereka itu berinvestasi besar lo kepada kalian"

Dor! Iya ya!
Kebayang dong berapa duit yang udah orang tua kita habisin buat nyekolahin kita dari bocil ampe segedhe ini? Itu duit kalau dikumpulin mungkin bisa buat orang tua kita foya-foya sepanjang hari. hehe, ya tapi orang tua kita nggak memilih melakukan itu kan ?

Terus dari situlah aku semakin tersadar bahwa prioritas untuk upgrade diri, belajar belajar dan belajar itu penting banget!
pelan-pelan aku berusaha untuk mengubah mindset "seminar mahal""pelatihan gitu doang kok mahal" menjadi "Oh kalau mau punya kemampuan itu ya memang aku harus mau investasi disana. Harus mau keluar duit disana"
Jangan sampai kita menganggap duit 50rb lebih pas buat beli boba enak daripada investasi untuk kemampuan diri.

Tapi ya balik lagi, setiap orang punya pilihan masing-masing. hhehe
its up to you~
Akupun masih belajar banget menerapkan mindset ini kedalam diriku.wkwkw
Dan entah kenapa belajar buat memiliki mindset ini tuh lumayan ampuh untuk mengurangi pemborosan terhadap pos pos konsumtif :')

Kalau kata orang,
Duit bisa habis, tapi ilmu nggak akan pernah habis. 

Yuk, kita yang masih muda ini pelan-pelan membangun mindset yang lebih luasssss, 
ini baru soal investasi ilmu ya, belum investasi finansial. lebih rumit lagi guyyyss
Semangaattt!!! :))

Ghibah itu Bukan Pilihan!

Sunday, June 14, 2020

Saya paham, sebagai manusia kadang kita merasa kesal, gregetan dengan kinerja atau sikap seseorang yang nggak beres, kebangetan, atau melukai hati kita. Wajar jika tidak suka.
Tapi bangga dengan berghibah itu bukan pilihan!
Saya paham, berghibah itu 'enak' tapi jangan jadi kebiasaan. Esok lusa, kalau kita nyebelin, kita juga pasti di ghibahin!
Berghibah itu hanya membuat kita menambah musuh, membuat kita menambah jarak dengan orang, mempersempit pandangan kita hanya pada kekurangan orang lain, dan itu nggak baik.
Bukankah kita ini juga nggak sempurna ? ☺
Gapapa kesel, gapapa anyel dengan 'sikap/kinerja' seseorang, tapi usahain bangettt direm ghibahin orang lain.

Tulisan ini mungkin sedikit naif, tapi percayalah, nanti kalo kita sudah semakin sadar akan banyak hal, ghibahin orang itu capek karena ternyata diri kita ini juga buanyak kurangnya :')
Kalo superduper kesel sama rekan kerja atau temen, manusiawi berkeluhkesah/curhat sama orang lain, yang penting jangan sampe kelewatan pada S&K yang berlaku (jadi ghibah) hehe curhat sama ghibah mah b.e.d.a ya meski pada praktiknya bisa jadi mirip :(
Jadi, beda-mirip-atau sama nih? 😂

Empati Manusia, ditengah Pandemi

Wednesday, May 27, 2020

Terlepas dari banyaknya pemberitaan, opini, sudut pandang terkait pandemi ini, ternyata ada hal yang jauh lebih bermakna untuk kita renungi. Paling tidak, untuk diriku sendiri.

yaitu, kepedulian kita terhadap sesama, kepekaan kita terhadap society, dan empati kita pada orang lain.

Dua hari ini aku dibuat emosi dengan sebuah kegiatan "administrasi" yang membuat ku Istighfar berkali-kali. Literally Istighfar, sangking nggak habis pikir, kokya masih ada orang-orang yang menyulitkan urusan orang lain ditengah pandemi seperti ini.
Tapi di hari ini pula, aku juga bertemu dengan seorang ibu-ibu yang dengan rendah hati mau membantuku. (semoga ibu ini Alloh jadikan anak-anaknya sukses, dan kelak suatu hari jika ibu ini mendapat kesulitan/musibah, Alloh mudahkan)

"Sebentar ya mba, saya selesaikan ini dulu nanti saya coba WA kan xxxx"
"Mba saya ambil kacamata keatas dulu ya, eh ndausah deh ini kayaknya xxxx cepat balasnya" 
"Saya telfon xxxx nggak diangkat mba"
"Eh ini sudah dibalas mba...."
Ibu ini menyerahkan hp nya untuk menunjukkan balasan "xxx" (Daaan, balasan xxx ini sungguh membuatku tercengang, yang membuatku bikin Istighfar lagi) wkwk

Nggak membuahkan hasil memang, tapi kebaikan ibu ini membuatku belajar, orang baik akan selalu baik ditengah kondisi, situasi, dan keadaan apapun. Dan orang yang di dalam hatinya punya kesenangan untuk membantu, dia akan tetap berusaha membantu, meskipun itu kecil dan sedikit. 

Dan ini semua membuat ku merenung disepanjang perjalanan.

Aku jadi teringat saat aku dan beberapa teman kajian memutuskan untuk menggalang donasi untuk kebutuhan APD diawal pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia.
Kita yang ibaratnya cuma 'panitia' dibuat terkejut oleh para 'donatur' yang Masyaa Alloh Masyaa Alloh Masyaa Alloh baik-baik banget sampe aku bener-bener terharu.

Ada seorang teman yang chat aku,
"Lui aku cuma bisa bantu segini tapi semoga bermanfaat ya"
"Lui aku boleh nggak ikut bantu share posternya?"
Ada juga beberapa teman kami yang donasi dengan jumlah yang tidak sedikit, bahkan ada seorang stranger entah dia siapa yang turut berdonasi lewat kami,

Nggak disangka-sangka memang,
ditengah keriuhan orang berbicara tentang Covid-19, ada orang yang dalam kesunyiannya justru fokus berpartisipasi untuk membantu.

Waktu kami membuka donasi untuk membantu fakir miskin terdampak Covid-19 pun lagi-lagi kita dibikin "Masyaa Alloh" oleh para donatur.

Jumlah yang kami kumpulkan mungkin memang tidak banyak, tapi Insyaa Alloh, kebaikan para donatur akan selalu aku ingat disepanjang hidupku, akan menjadi sebuah pembelajaran hidup untukku tentang "apa arti sedekah", "apa arti membantu sesama", dan kelak semoga kita bisa saling bersaksi di hadapan Alloh SWT, bahwa masih ada orang-orang dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai seorang manusia, masih ada secuil kebaikan yang bisa ia bagi untuk sesama.
mudah-mudahan segala apa yang dikerjakan temen-temen panitia dan kebaikan para donatur Alloh Ridhoi, Alloh jadikan sebuah kebaikan berlipat. Aamiin

Perenungan ini akhirnya membuatku sedikit 'lunak' untuk tidak mendoakan yang buruk-buruk atas kezaliman segelintir orang yang bikin Istighfar tadi.
Hehe

Dan akhirnya, aku berkesimpulan,
Terlepas dari sudut pandang, opini, cerita, pemberitaan terkait pandemi ini, mungkin ini saatnya kita refleksi diri tentang 'status' kita sebagai seorang manusia.

Selama pandemi ini, kita menjadi manusia yang seperti apa sih? Apa saja yang sudah kita lakukan ?

Kita selama ini sibuk berteori,
Sampai-sampai lupa, sudah sejauh mana hati kita tergerak untuk peduli terhadap sesama? Untuk peka terhadap kesulitan-kesulitan orang lain? Untuk sedikit saja berempati terhadap orang-orang yang betul-betul berjuang ditengah pandemi ini.

Ingat, membantu tidak melulu tentang uang, 
Ada banyak kebaikan yang bisa kita lakukan sebagai manusia, bukan?
Tidak perlu bertanya apa, karena aku dan kamu tentunya sudah lebih dari cukup untuk tahu, apaitu "berbuata baik"

Belajar dari sepotong kisah yang aku ceritakan diatas,
Sama-sama ditengah kondisi pandemi, ada si "xxx" yang memilih untuk tidak memudahkan urusanku, malah bales dengan jawaban yang nggak enak. Tapi disaat yang sama pula ada ibu-ibu yang memilih untuk tetap membantuku, meskipun hanya sekadar menjadi penjembatan pertanyaanku.

begitupun dengan kita.

Sama-sama ditengah pandemi, ada yang sibuk jalan-jalan ke mall, nongkrong, liburan (padahal belum dianjurkan) namun juga ada yang sekuat tenaga nahan bosen dan stress nggak jalan-jalan demi memutus tali penyebaran covid-19

Sama-sama ditengah pandemi, ada yang sibuk nyampah di media sosial tentang ABC, tapi disaat yang sama pula, ada orang-orang yang memutuskan untuk menjadi relawan, membantu galang donasi, sedekah harta, dan lain lain.

Sama-sama ditengah pandemi, ada yang sibuk share berita hoaxs, comot-comot berita tidak jelas dan di share kemana-mana, namun disaat yang sama pula ada orang-orang yang sekuat tenaga mencoba mengulas satu topik dengan narasi ilmiah , kritis dan berdasar

Sama-sama ditengah pandemi, ada yang sibuk bikin konten sampah dan pansos, namun disaat yang sama pula, ada orang-orang yang mikir keras gimana bikin konten-konten mendidik.

dan masih banyak lainnya,

Yang mana yang kita pilih?

Pada akhirnya,
Pandemi hari ini, akan menjadi cerita di kemudian hari.
Lantas,
Sejarah apa yang ingin kita tulis di masa depan nanti ? :)

Baikkah ? Atau justru sebaliknya? :')

KATA ORANG, YAUDAH SIH SABAR AJA! BERSYUKUR! NIKMATIN HIDUP!

Friday, May 15, 2020

Hingga hari ini, aku orang yang sangat kontra terhadap orang-orang yang hobi banget pakek kata-kata 'yauda sabar aja' 'yaudah bersyukur aja' 'yaudah nikmatin aja' disaat orang lain bener-bener lagi kesusahan. Lagi stress. Lagi capek. Lagi dapet masalah. Lagi dapet musibah.

Kenapa sih harus buru-buru menyuruh mereka untuk kuat ? Padahal kita paham betul bahwa sebagai manusia, kita pasti punya perasaan 'lemah'.

Nasihat tentang sabar, tentang ikhlas, tentang bersyukur itu  bagus. Bagus banget malah.
Tapi belajar EMPATI lagi yuk 😊
Belajar menjadi manusia yang lebih peka terhadap psikis orang lain
Belajar menjadi manusia yang mudah memberikan rukhsoh (keringanan) pada orang lain
Belajar memahami peran manusia yang seharusnya mudah berempati.
Jangan buru-buru meminta mereka auto bakoh disaat mereka justru butuh untuk dikuatkan

Lelah, stress, putus asa, minder, kurang bersyukur, kurang sabar, susah ikhlas itu memang bagian hidup manusia kan ?

Ada disini yang selama hidup dari lahir sampe detik ini bahagia 100% ? Tenang 100% ? Cukup 100% ? Nggak pernah sedih ? Nggak pernah kecewa ? Nggak pernah capek ? Nggak pernah nangis ? Nggak pernah sambat ? Nggak pernah bertanya sama Alloh "why?"

Nggak ada.

Kenapa ? Karena kekurangan itulah kita disebut manusia.
Kesempurnaan rasa itu proses hidup.

Bukan nggak bisa nikmatin hidup,
Tapi untuk paham arti sabar,
Untuk paham pentingnya ikhlas dan memperbanyak syukur itu, bukankah memang dengan ujian ?

Menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat, lebih sabar, lebih segala-galanya adalah proses seumur hidup.

Melalui titik-titik ujian yang Alloh berikan, rasa ini dibentuk.
Ya memang butuh waktu.

Masalah orang lain bagi kita mungkin kecil, tapi sekali lagi, mental orang, kemampuan orang nggak semuanya sama.
Kalau nggak bisa sedikit saja memahami, panjatkan saja doa-doa. Agar yang dalam proses menjadi orang yang lebih baik, lebih bijak, lebih sabar, lebih kuat, lebih banyak bersyukur ia diberi kemudahan, kemampuan, kekuatan.

Berhenti meletakkan masalah orang lain itu sepele, tidak penting, remeh dikala ia betul-betul sedang terpuruk. Bayangkan kita adalah ia yang sedang terpuruk.

Perlakuan apa yang ingin kita dapatkan ? Kalimat apa yang ingin kita dengar ?
Lakukan!

Aku belajar, kamu belajar, kita semua belajar, untuk menjadi manusia yang lebih lebih lebih memahami 'manusia' itu sendiri 😊
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS