Menemukan "Rezeki" dalam Pekerjaan

Thursday, October 20, 2022

Meskipun follow akun instagram kantor, aku cukup jarang "melihat-lihat" postingan yang ada disana. Hanya sesekali kalau pas buka instagram dan masuk ke timeline.

Bukan kenapa-kenapa sih, simply karena emang jarang buka instagram. Hehe

Namun, hari ini sebuah postingan video reels mampir di halaman lini masa instagram ku. Sebuah video tentang seorang anak yang menanti ayah nya pulang bekerja sebagai supir truk. 

Potret kehangatan, dan "saling berkasih sayang" tergambar jelas pada video tersebut.

Apalagi sang anak dan ayah saling memberi bungkusan hadiah, entah apa isinya mungkin semacam oleh-oleh atau bekal.

Background music Ada Band "ayah dengarlah..." membuat hatiku seketika potek. 

Terharu. Maknyeesss rasanya di hati.

Randomly tiba-tiba terlintas di pikiranku, "keren banget ya kantorku bisa bikin postingan kayak gini," sembari scrolling postingan yang lain. 

Ada perasaan bahagia rupanya.

Aku jadi semakin tersadar, bahwa salah satu rezeki yang aku dapatkan bisa kerja disini adalah 'happiness'.


Mungkin bukan uang, bukan fasilitas mentereng ala pejabat, bukan title yang keliatan 'wah', bukan kenyamanan yang terus menerus atau pun ke stable-an perkara career/income. Duh masih jauh kayaknya dari itu semua.


Tapi aku selalu bangga bilang 'aku bahagia kerja disini'. 


Rezeki pekerjaan setiap orang tu beneran masing-masing.
Ada yang mungkin rezekinya dari segi materi/gaji ada yang rezekinya dari sisi jabatan/amanah, ada yang rezekinya lingkungan yang baik, dll. Dan itu  gpp, karena buatku bentuk "rezeki" itu 'macem-macem'.


Temukan 'rezeki' itu di dalam pekerjaan karena almost separuh waktu kita dihabiskan buat kerja. Supaya tetap memeluk rasa syukur di tengah badai pekerjaan yang tidak mungkin tidak bikin kita tidak mengeluh alias semua pekerjaan pasti ada yang bikin sambattt. Hehe


Kalo ditanya apa yang bikin bahagia kerja di kantor sekarang? 


Jawabannya ada banyak, tapi salah satunya mungkin kesempatan menebar hal-hal baik.


Love banget sampe balik WFH ke Solo aku beneran se-sedih itu! :') Heuheu.

Wong Kok Dibanding-bandingke? Yo Mesti Salah Teros

Saturday, September 10, 2022

Walaupun bukan artis, tapi ternyata keputusan-keputusan hidup kita itu legit banget loh, buat dijadikan bahan greneng-greneng orang lain. Entah sanak saudara, tetangga, ataupun teman.
 
Kalau sekarang acara TV lagi ramai Endonesia Mencari Bakat, nah mungkin kehidupan kita tuh dibuat seolah-olah lagi ikut kompetisi.
 
Ada peserta
Ada cerita
Ada komentator
 
Kita adalah peserta
Hidup kita adalah cerita
Nah komentatornya nih macem-macem. Mulai dari keluarga, saudara, teman, sampai tetangga. Macem-macem pokoknya.
 
Uniknya, kalau soal ngomentarin orang lain kayaknya kita udah nggak kenal istilah introvert dan ekstrovert. Nggak kenal si pemalu dan si pemberani. Nggak kenal waktu, tempat, keadaan, bahkan etika. Boro-boro mikirin perasaan orang lain?
 
Pokoknya semua auto ekstrovert. Jago dan ber energi bangettt buat ngoceh dari A-Z (apalagi ghibahin orang lain)
 
*
 
Mari kita mengingat masa-masa dahulu saat kita masih sekolah.
Mungkin kita mulai dari zaman kita Sekolah Dasar dulu
 
Nggak cuma generasi alpha lho yang berat dengan gempuran teknologi penuh disrupsi.
Gen Z dan milenial 90an itu ya ada situasi berat di masanya.
 
Pertanyaan "piye nduk/le entuk rangking piro neng sekolah" ini sesungguhnya bikin keri (geli dalam bahasa Jawa) anak-anak SD di zamannya.
 
Udah gitu yang nanya mulai dari mbah, sepupu, budhe, pakdhe, om, tante, sampe tetangga-tetangga juga kepo.
 
Kalau kebetulan pinter dan dapet 10 besar mah santai ya. Yang agak sial itu kalau ranking 17 murid nya 20.
 
Mau dijawab takut dikira bodoh, gak dijawab takut dikira gasopan.
 
Akhirnya cuma nyengir pahit sambil jawab 'gak dapet 10 besar'
 
Lalu . . .
Apakah masa SMP akan tenang begitu saja? Ternyata tidak Fergusooo …
Pertanyaan 'ranking-rankingan' ini bakal terus berlanjut selagi kita sekolah.
 
Bahkan, di penghujung SMP nanti, kita juga mendadak menjadi artis.
Bakal ditanya sama warga +62 dengan pertanyaan begini kira-kira:
'lulus UN NEM nya berapa?'
'nglanjutin di SMA mana?'
Sebenernya pertanyaan ini nggak terlalu mengganjal sih ya, kecuali dilanjutkan dengan pertanyaan 'oh swasta? Kenapa nggak negeri?'
Biasanya disini bapak-bapak ibu-ibu, om, tante, pakdhe dan budhe itu bertanya pertanyaan yang sebenernya UDAH TAHU JAWABANNYA alias ya NEM nya nggak nyampek. Atau KK nya diluar kota jadi standar nilainya lebih tinggi dan sulit (mungkin kalo zaman sekarang istilah nya zonasi)
 
Konon katanya, kalo sekolah nya negeri favorit bisa masuk univeritas bagus.
Inilah kenapa keberadaan SMA kita seolah-olah jadi faktor penting menentukan masa depan.
 
Nggak berhenti sampai situ.
Nanti ketika masuk SMA perkara IPA IPS juga jadi urusan pelik dan selalu diperbedatkan.
 
Alasannya dua hal:

  1. Anak IPA lebih pinter
  2. Anak IPA nanti kuliahnya bisa milih, bebas kalo IPS jurusannya terbatas.

 
Belum berhenti, begitu kuliah, perkara kampus swasta/negeri dan jurusan pun nggak luput dari beragam komentar.
 
Kamu kuliah dimana, jurusan apa selalu jadi persoalan yang seru buat dicari celah dan kurangnya.
Kuliah teknik dibilang 'lapangan kerja terbatas, persaingan ketat'
Kuliah sejarah dibilang 'gapunya masa depan'
Kuliah swasta dibilang 'susah cari kerja'
 
Wes pokoke reno-reno (macem-macem).
 
Nanti di penghujung kuliah ujiannya masih panjang . . .
Telat lulus jadi bahan omongan
Cepet lulus belum dapet kerja juga makin jadi omongan.
Kerja swasta dikatain
Kerja PNS (ada juga si yang ngatain)
 
Ini kalau dilanjutin lagi panjang nih.
Perkara lamaran, nikah, punya anak, didik anak, anak kedua, ketiga, dst beuuhhh banyak ngetssss cela kita idup kayak apapun pilihan atau takdir hidup kita semua serba salah.
 
Mungkin salah satu penyebab orang mudah insecure adalah keadaan lingkungannya yang nggak bisa mendukung penuh pilihan/jalan hidup seseorang.
 
Kadang kita terlalu kepo, nggak sengaja menilai 'takdir' orang lain dengan bias-bias yang kita 'anggap lebih baik'
 
Padahal yaaaa …. Kita ngga tahu juga
 
*
 
Mungkin komentar-komentar dan pertanyaan-pertanyaan kehidupan seperti ini sudah menjadi budaya besar warga +62.
 
Tapi mungkin kita perlu merenung sejenak …
Sebelum buru-buru ngomentarin pilihan hidup orang lain atau mencetuskan pertanyaan yang nggak penting-penting amat
 
Kenali orangnya sebelum bertanya
Pikir lagi sebelum bermudah-mudahan memberikan penilaian orang lain,
 
Karena . . .
 
We never know, how hard some people fight for their life.

Menyaksikan Keranda Setelah 1 Tahun Kepergian Bapak

Saturday, September 3, 2022

Kemarin adik bapak meninggal dunia.

Sesungguhnya aku tidak cukup siap jika harus bertakziah.

Sudah satu tahun aku nggak pernah takziah bukan karena nggak mau, tapi nggak siap :')

Ada sesak di dada yang begitu besar, kadang bercampur marah.

Tapi apadaya, ini adek bapak, tidak mungkin jika tidak takziah.


Benar, lagi-lagi hati yang masih basah dengan luka ini kembali pecah


Dalam hati aku menangis


Ya Rabb

Begitu indah kematian ini disaksikan oleh keluarga, tetangga, saudara, kerabat, dan teman yang begitu menyayangi

Seluruh anak berkumpul dan mengangkat keranda

Ramai sekali orang-orang saling menguatkan keluarga yang ditinggalkan, bergantian mensalatkan, dan lisan yang tak henti mendoakan


Aku iri dan sesungguhnya tak sanggup menyaksikan semua ini


Aku tahu tidak ada kematian yang 'lebih mending'

Semua kematian adalah kepahitan tak terkira bagi siapapun yang ditinggalkan

Kematian menjadi luka menganga bagi siapapun yang kehilangan


Tapi ya Rabb dengan segala kekurangan diri dan kelemahan iman

Aku selalu merasa semuanya terlalu sulit untuk kupahami hingga hari ini


Mengapa aku harus merasakan kehilangan dalam situasi yang sangat menakutkan? 


Adik bapak yang lain kemarin bilang "anak-anak pak Ali pas nggak ada  nangis kabeh"


Ya Tuhan, bahkan air mata itu sudah kutahan-tahan.

Aku sudah menanggalkan perasaan sedihku demi terlihat kuat dan ikhlas


Bagaimana aku tidak menangis?


Aku harus sekuat tenaga menghibur diri sendiri, SENDIRI.


Tak ada satupun dari kami yang menyaksikan kematian beliau, aku bahkan tak tahu keranda bapak ku sendiri, cuma bisa nyolatkan sebentar itupun DIJALAN

Setelah itu?

Kami menutup rumah rapat-rapat, hingga hari ini . . .


Beberapa bulan setelah bapak nggak ada seorang teman berkunjung


"Hawanya beda ya Luk, keliatan masih sangat berduka"


Duka itu selalu ada, pintu yang dahulu selalu terbuka, kini tertutup rapat karena penghuninya-pemiliknya telah tiada


Kalau kata Ustaz Abdul Somad 'kehilangan itu akan hilang seiring berjalannya waktu HANYALAH omongan teori dari orang yang nggak pernah kehilangan'


Orang yang berduka itu hatinya sangat sensitif.


Inget dikit bisa nangis, inget dikit bisa sedih


"Tapi kok kayaknya si A, B, C biasa-biasa aja ya?"


Karena mereka memendamnya. Nggak semua orang bisa memahami kedukaan orang lain, sedangkan kedukaan itu perlu disaksikan.


Setelah bapak nggak ada, aku selalu senang dan tenang menulis tentang kedukaan.

Karena rasanya berat banget banget tapi nggak banyak orang bahkan penulis yang menuliskan hal ini :')

Sehingga orang-orang berduka dipaksa kuat, disuruh tidak berlarut-larut alih-alih mengobati dan validasi perasaan mereka.


Menurut studi, kedukaan adalah proses penyembuhan TRAUMA paling lama dibandingkan yang lain.


Suara yang Hilang

Sunday, July 24, 2022

Suatu waktu aku membaca sebuah tulisan dari lini masa media sosial kurang lebih begini bunyinya:

“Hal yang paling menyakitkan dari kehilangan adalah semakin lama hari berlalu, kita tak bisa lagi mengingat suara orang yang telah meninggalkan kita selamanya”

Seketika aku terdiam.

Aku mencoba mengingat suara bapak dan meyakini-dengan percaya diri- aku pasti mengingatnya.

Tapi ternyata…

Aku sama sekali tak bisa mengingat bagaimana suara bapak

Aku terkejut dan bahkan hari ini aku kembali menangis tersedu.

Ya Allah

Bagaimana mungkin aku tak bisa mengingat suara bapakku sendiri

Yang suaranya selalu menggema di dekat masjid-masjid rumah kami

Yang suaranya selalu terdengar saat berlatih sebelum menyampaikan materi ceramah

Yang hampir setiap hari selalu berbicang dengan tamu-tamu beliau yang datang ke rumah

Yang selalu menjadi imam kami saat salat

Yang selalu membaca doa ketika kami masih kanak-kanak

Bagaimana aku tak bisa lagi mengingatnya disaat bapak adalah orang yang suaranya terdengar dimana-mana, ya Allah?

7 hari lagi adalah tepat setahun kepergian bapak

Entah waktu yang cepat atau lambat untuk menerima kehilangan ini semua

Tapi sesak di dadaku masih sama ya Allah

Proses menerima kehilangan ini sungguh tak mudah

Setiap kali aku mengingat aku tak lagi memiliki sosok ayah, hatiku hancur

Lebih-lebih sekarang akupun tak bisa lagi mengingat suara beliau :((

Ya Allah hatiku…

Tutur Kata

Sunday, February 6, 2022

 Kenapa ya manusia itu cenderung lupa kalau dirinya tuh berawal dari "nggak punya apa-apa" dan "nggak bisa apa-apa?"


Tapiiiii, pas Allah udah kasih kemudahan, kelebihan dan rezeki (kadang) adaa aja tu mulut nyakitin orang lain.


CONTOH:


Pas uda dikasi rezeki bayi sama Allah eh ngecengin temennya yang belom punya bayi -> 

'Emang kamu bisa gendong bayi?'


Jago banget masak eh ada temennya baru mau coba belajar masak di ledekin 'Emang kamu bisa masak?'


Pas udah berhasil lulus kuliah terus nyinyir temennya yang lagi stress skripsi -> 'udah santai aja skripsi juga ntar kelar gausa overthinking lah'


Pas udah tahu sesuatu hal / istilah X yang mungkin asing, pas temennya belum paham eh disudutin -> 'masak gatau sih itu gampang banget'


Tau nggak? Kalimat-kalimat tersebut tuh nggak cuma menyakiti orang lain, tapi juga menunjukkan  adanya kekosongan empati dalam diri. 

Bikin orang orang lain jadi insekyur bahkan bisa mematikan kepercayaan dirinya.


Lagian, apasih yang mau di sombongin dari apa yang kita punya/bisa saat ini?


Hey, kita semua tu punya masa lalu.

Pernah nggak bisa. Pernah nggak tahu. Pernah bodoh juga.

Wong jalan sama makan kalo kita dulu nggak di didik sama ibu bapak kita yo nggak bisa.


Processsssssssssssssssss

Manusia itu berproses. 


Kita sekarang berhasil lewatin masa sulit garap skripsi dulu juga pernah kali stress bego ngerjain skripsi

Kita sekarang satsetsatset gendong bayi dulu juga berawal dari kaget bingung jadi mama baru

Kita sekarang tahu istilah abcd dulu juga awalnya pasti gatau, tau dari googling/belajar dari oranglain

Masak pun demikian. Dan apapun dehhh kita semua itu berawal dari 0 

Apeee apeee yang mo disombongin? :') 


Mari jadi pengingat, bahwa apapun yang kita miliki sekarang semua cuma titipan. JUSTRUUU titipan ini tu bisa jadi ladang pahala kalo kita bisa empati sama orang lain. Kasih support, kasih bantuan, ngajarin. Jadi ilmu toh?


Kalau gabisa ngomong baik, diem.

Kalo gabisa support, Doain.


Budaya ngomong seperti contoh-contoh diatas tuh banyak banget! Bukan dari orang tua, justru dari yang muda-muda. Circle teman2 terdekat bahkan. Yuk sama-sama belajar mengurangi mengutarakan kalimat yang gaenak.


Again,

Kalau gabisa ngomong baik, diem.

Kalo gabisa support, Doain.

Grieving

Sunday, January 23, 2022


Kehilangan adalah keniscayaan.

Yang akan datang menghampiri SIAPAPUN dan menyimpan sesak entah sampai kapan.


Aku tidak tahu bagaimana mendiskripsikan perasaan ku setelah kehilangan bapak, bahkan setelah hampir setengah tahun berlalu.


Aku masih merangkak, berjalan begitu lambat untuk melangkah 'mau ngapain melanjutkan hidup'


Kedukaan karena kematian adalah ujian paling 'kurang ajar'.


Kita dipaksa untuk ikhlas dan menerima yang bahkan otak dan hati kita begitu terlunta-lunta mendefinisikan kematian itu sendiri.


Aku juga tidak bisa menggambar kan dengan jelas bagaimana rasanya.

Karena sedih dan menangis tak akan pernah cukup mewakili kecamuk hati yang begitu perih mengiris.


Dadak ku sesak jika harus mengingat momentum kepergian bapak.


Lantas, bagaimana mungkin orang lain memintaku 'melupakan?' 

Jika tak ada satu hari pun yang kulewatkan untuk memikirkan bapak


Dalam doa selalu teringat

Memohon pada-Nya untuk dilapangkan kubur nya.


5 waktu. Setiap hari.


Maka tak ada kata dan kalimat yang bisa mewakili perasaan ini selain, 


Kehilangan, kedukaan karena kematian adalah trauma yang mungkin akan kita bawa seumur hidup.

Ujian yang Allah titipkan dengan bobot tak terhingga


Semoga Allah pulihkan segala sesak nya pelan-pelan...


19.55

Jan 22, 2022

Sebuah Perjalanan Kedukaan

Friday, December 31, 2021

 Aku tak pernah menyangka, bahwa kematian, kehilangan bapak untuk selama nya akan menjadi kedukaan yang begitu mendalam, menyesakkan dada. Separuh jiwaku rasanya pergi, hilang, tak bersisa, begitu saja. 

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS