[Sajak] Biru Memerah

Friday, April 6, 2018

Retak terserak
biru Memerah amarah
mari bersibuk ria
tuding menuding 
salah menyalahkan,
asik, bukan ?

Maret, 2018
-Luluk Khoirunnisa-

[Sajak] Duri

Bunga berduri dipenghujung jalan
panjang durinya terlihat dari kejauhan
kolong hitam dipelataran
enggan melangkah, meski penasaran

Maret, 2018
-Luluk Khoirunnisa-

[SAJAK] Menunggu

Friday, March 23, 2018

Kayuh saja sepeda tua mu lebih cepat
waktu tidak akan memotong titik senja
bagi perindu sepertiku 
menunggu adalah sepi yang setia
hanya sendiri ini menggerogoti ruang sendiku
melapuk seperti kayu
satu dua lamanya hingga kulupa satuan hitungnya
lama benar
kataku menyebut namamu
pandangku mulai kabur

Maret, 2018
-Luluk Khoirunnisa-

Minder

Sunday, March 4, 2018

Mungkin saat ini adalah part of my life yang paling buat aku nyaman dan beryukur.
Aku bertemu dengan berbagai macam orang dengan segala potensi, skill, dan kelebihan yang dimiliki.
Mereka yang serius terhadap kewajibannya, namun tetap santai dan humoris.

Ini adalah part dimana aku (mungkin) pertama kalinya bertemu dengan orang yang tidak hanya pandai secara akademis, tapi juga non akademis. Fokus namun tetap kekinian.

Aku selalu berfikir bahwa semua teman-temanku adalah orang-orang hebat
sebagian dari mereka sangat cerdas pemikirannya
sebagian lagi punya softskill yang unggul
sebagian lagi meski terlihat biasa-biasa saja, ternyata mereka punya kelebihan yang selalu membuatku takjub.

Lalu, aku ini masuk yang mana ?
cerdas tidak terlalu, softskill gak seberapa . .
apaya potensiku ?
apaya bakat yang aku bisa ?

pertanyaan-pertanyaan ini yang sering banget menari-nari di otakku.

aku terlalu sering compare my selft with others 
aku suka ngomong, tapi yang jago ngomong lebih bagus dari aku banyak
aku suka nulis, tapi yang tulisannya jauh lebih keren dari aku juga banyak
pinter ? gaterlalu.
suka buku ? yang bacaan bukunya jauh lebih banyak dan tingkat bacaannya lebih hard dari aku juga banyak

wkwk

gak ada habisnya.

dan pikiran-pikiran kayak gitu yang bikin aku selalu merasa kecil, gak bisa apa-apa, bahkan kadang merasa aku yang paling bodoh.

Makin kesini aku makin tersadar bahwa aku gabisa terus-terusan membandingkan diriku sama orang lain karena gak akan sama.
dan ketika aku terlalu sering membandingkan diriku dengan orang lain, hal tersebut hanya akan membuat aku jadi jalan tempat dan tidak berkembang.
aku jadi takut memulai sesuatu hanya karena malu kalau dianggap "gak bisa"
wkwk

Anehnya,

beberapa orang bilang bahwa aku ini orangnya percaya diri.
malah temenku ada yang bilang aku ini punya tingkat kepercayaan diri sangat tinggi

aku gatau mereka menilai itu darimana, mungkin karena aku ini suka bercanda dan kalau bercanda kepedean kali ya. hehe

ah, padahal aku ini orangnya sering banget selalu merasa kecil :(
lagi kepengen mencoba berpositif thinking sama diri sendiri, men-sugesti diri sendiri dan mengatakan "Kamu  juga bisa keren dan hebat kayak temen-temen yang lain, Luk!"

Menurut kalian aku ini punya kelebihan apa sih ? wkwk
apa ya yang bisa aku kembangan mengenai potensi dan skill yang aku punya ?
lalu apakah diantara kalian yang baca post ini punya tips, pengalaman, atau cerita yang bisa bikin kita gak minder sama diri kita ?
sharing yuk! :)


Salam,


-Luluk Khoirunnisa-

[Sajak] Takdir tak Bersama

Monday, February 12, 2018

Tidak jauh jarak kita berdiri atau duduk
Tidak lebih dari 10km
tapi mengapa jarak ini terasa jauh beribu-ribu kilometer?
kita yang tidak cocok, atau memang tak tertakdir bersama?

Januari, 2018
-Luluk Khoirunnisa-

[Sajak] Menahan

Menunggangi malam hanya untuk sepucuk sendu
Tidak mengeram meski rintih tertahan

Januari, 2018
-Luluk Khoirunnisa-

[Sajak] Puncak Harapan

Wednesday, January 10, 2018

Jalan yang kau tempuh nampaknya terjal
ia tampak meliuk
naik turun berkelok-kelok
tak pernah lurus dan mulus
kadang kau terjungkal
jatuh terluka
kadang kain yang kau bawa basah kuyub banjir keringat dan air mata
nyaris kau ingin berkata menyerah 
tapi puncak itu selalu menjanjikan harapan perubahan
lagi-lagi kau harus mencoba berdiri
sedikit merangkak meski tubuhmu sudah habis ringsek
sedikit sedikit hingga kau mampu cukup berdiri dan mencoba kembali berjalan meski tak sanggup jika harus berlari
walau tertatih kau mencoba untuk terus maju
sebelum pangkal kakimu berdiri di puncak, pantang untuk membalik badan, apalagi menyerah

-Luluk Khoirunnisa, Januari 2018-
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS