Friday, January 31, 2020

Kalaupun lisan tak bisa terjaga, 
maka masih ada Doa,
sebagai sebaik-baik ucapan.

Untuk 2019 dan 2020

Tuesday, December 31, 2019

Akhir 2018 lalu aku pernah menuliskan 1 pesan untuk diriku yaitu :
'Boleh megeluh, tapi jangan pernah menyerah! Berjuanglah hingga akhir, karena kamu tahu ?
Keberhasilan hanya bisa didapat dengan ikhtiar terbaik dan doa-doa yang tak pernah putus dipanjatkan'

Agaknya pesan ini tepat adanya.
2019 adalah fase dimana Alloh lagi-lagi mengujiku dengan banyak rasa sabar dan ikhlas dalam segala aspek kehidupan.
Kadang capek kadang sedih
Kadang kecewa kadang marah

Namun atas segala pengalaman dan proses bertumbuh di tahun ini, aku berterimakasih.

Terimakasi kepada Alloh SWT yang telah memberikan banyak nikmat, rahmat, dan kekuatan untuk tetap teguh berdiri melewati badai ujian, terimakasih yaa Rabb.

Terimakasih untuk diriku sendiri atas segala usahamu untuk kuat,  sabar, untuk ikhlas dari segala perasaan sedih dan kecewa terhadap apapun dan siapapun. Meski dalam proses nya kamu nggak bisa sempurna, its ok. Kamu tetaplah manusia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kamu punya.

2019,
Terimakasih sudah menjadi teman bersama untuk belajar dan bertumbuh ☺

Menyongsong 2020, tak banyak yang kuminta kepada sang Maha Pemberi Kehidupan.

Aku hanya minta, Kalau nanti di fase kehidupan selanjutnya dalam mencari rizki, agaknya tidak terasa mudah, maka semoga Alloh berkenan meluaskan sabar dan ikhlasku dengan samudera sabar dan ikhlas yang lebih luas lagi, dan apabila proses mencari rizki  diberikan kemudahan, maka semoga Alloh berikan rasa syukur berkali lipat dan Alloh tidak jadikan masalah rizki sebagai ujian.
Yang kedua, aku memohon kepada Alloh agar meng Istiqamahkan diriku pada jalan kebaikan, jadikan aku hamba yang jauh lebih taat, lebih mencintai Mu dan Rasul-Mu ketimbang hal-hal duniawi lainnya.
Jadikan aku hamba yang jauh lebih mementingkan urusan akhirat ketimbang mengejar dunia yang nggak ada habisnya, jauhkan dari sifat Al-Wahn dan pertemukan aku dengan orang-orang yang memiliki frekuensi yang sama tentang tujuan akhirat serta Lembutkan lah hatiku untuk senantiasa ringan menerima hidayah-Mu dan berbakti kepada kedua orang tua.

Aamiin 💚

Untuk Siapapun diluar sana yang masih Menyebut Dirinya Adalah 'Manusia'

Sunday, December 22, 2019

Waktu posting ini, ada banyak sekali yang izin buat nge repost, gabanyak sih, tapi ada lah ya beberapa. wkwk, terus beberapa temen yang repost diminta izin juga buat repost lagi sama temen-temen mereka. Alhamdulillah, selalu senang dan bersyukur kalau tulisan ku yang masih banyak kurangnya ini bisa diapresiasi dengan baik oleh orang-orang sekitar :') terimakasih :')

Sejujurnya dengan adanya beberapa orang yang izin me-repost tulisanku ini, aku jadi berpikir "mungkin ini adalah keresahan banyak orang"

Dan mungkin memang iya.

Well, melalui tulisan ini aku ingin menyampaikan sebuah pesan dari hati untuk siapapapun orang diluar sana yang fikiran dan nurani nya masih berfungsi, pun kepada diriku sendiri


Belajar 'Akhirat' dari Adik-adik Tunanetra

Saturday, November 30, 2019

Dua hari yang lalu, aku bertemu dengan seorang anak tunanetra. Belakangan aku baru tahu, ternyata dia tidak hanya tunanetra, tapi juga tunagrahita.

Anak ini kelas 8 SMP. Kalau dilihat dari tingkat sekolahnya, artinya mereka adalah anak-anak yang beranjak tumbuh remaja dan masih sangaaat muda.
Suatu kali sang guru anak ini bertanya, "itu isi speaker kamu apa aja ?"
Kemudian sang murid menjawab, "Macam-macam pak ada lagu jawa, ada karawitan, pengajian juga ada."

Oh, God.

Temanku yang saat itu sedang bersamaku, tak kuasa menitikkan air mata.

Akupun berusaha untuk tidak menangis, meski rasanya sangat sulit membendung air mata ini. 
Bahkan saat menulis cerita ini kembali, mataku masih saja berair.

Hari itu aku tertampar. 

Mereka yang punya kekurangan saja masih punya semangat untuk belajar Agama, masih punya koleksi 'pengajian' di hp nya,
Lantas, aku ini bagaimana ?
Masih sering males, hp kebanyakan nonton youtube yang sifatnya hiburan aja, bahkan kalau dipikir-pikir, aku ini nggak pernah bersyukur atas kelengkapan indera yang kumiliki.

Hari itu aku tertampar.

Mungkin mereka tidak dapat melihat indahnya dunia ini,
Tapi sejatinya mereka tenang, karena kelak di akhirat, mereka yang paling ringan hisabnya atas penglihatan mereka yang tidak pernah mereka gunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

Mungkin mereka tidak dapat menikmati warna-warni, gelap dan terangnya dunia ini, tapi hati mereka sejatinya jauh lebih bersinar, karena ditengah keterbatasan, mereka masih sempatkan waktu untuk mendengar ajaran-ajaran-Nya.

Hari itu aku tertampar.

Menjadi sempurna tak kurang satu apapun seperti kita memang 'menyenangkan' tapi sayang, kita ini syukurnya kurang.
Memiliki fisik sempurna adalah rezeki, tapi nanti Alloh akan mintai pertanggungjawaban setiap indera pada diri ini.

Hari itu aku tertampar.

Maka pantaslah dunia ini adalah tempat untuk ber lomba menjadi yang terbaik di hadapan-Nya 
Karena sempurna atau tak sempurna, semua terukur dari Taqwa, di hadapan Rabb-Nya

We have a lot of chance to Learn

Friday, October 25, 2019

Setiap orang pasti punya fase dimana ia mulai gelisah tentang hidupnya.
Entah itu karir, cita-cita, materi, sekolah, dsb. 

Tidak kupungkiri, akupun pernah mengalaminya.
Mulai dari perkara kelulusan kuliah, sampai menikah.

2017, satu persatu teman-temanku D3 zaman sekolah mulai sidang dan wisuda. 
2018, teman-teman S1 ku zaman sekolah pun mulai sidang dan wisuda juga.
2019, Beberapa teman-teman angkatan di kuliah juga udah mulai sidang bahkan juga ada yang sudah wisuda.
Belum lagi, diantara fase-fase tersebut semakin banyak teman-teman yang menikah, punya anak, studi lanjut S2, bekerja dan punya pengasilan sendiri.

Sedangkan aku, di usia yang sama dengan mereka, belum ada yang bisa aku raih.
Lulus kuliah belum, bekerja dan punya penghasilan juga belum, menikah apalagi punya anak pun juga belum.

Jangan ditanya berapa kali aku merasa resah dan gelisah. Sering, berkali-kali.
Kadang, aku merasa usia ku sudah terlalu terlambat untuk meraih cita-citaku yang lain, rasa-rasanya seluruh fase kehidupan ku tidak sesuai rencana, mundur, dan meleset jauh.

Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu, 

Ketika aku belum lulus kuliah, belum kerja dan berpenghasilan sendiri, justru Alloh kasih kesempatan untukku belajar tentang konsep "rezeki" yang pada akhirnya, sangaaattt sangaatt mengubah pola pikirku.
Dulu, aku selalu berpikir bahwa setelah aku lulus kuliah, aku harus kerja di perusahaan yang keren, yang bisa menunjang kesuksesan karirku, dan lain sebagainya, sampai akhirnya Alloh kasih kesempatan aku dateng ke satu kajian dan bertemu dengan seorang Ustadz yang menjelaskan tentang konsep rizki, yang Masyaa Alloh banget! Blas, rasanya semua preferensi ku berubah. Berubah total!
Sekarang mikirnya udah jadi lebih luas, lebih legowo, dan malah minta Alloh saja yang memilihkan, dimanapun tempatnya, aku hanya memohon kepada Alloh 2 hal: dipertemukan dengan lingkungan yang baik, dan tempat tersebut nggak bikin aku jadi jauh sama Alloh.

Ya syukur-syukur tempatnya sesuai impian, lingkungan nya baik, kerjaannya bikin nyaman, gajinya berkah melimpah, hehe. Amiin. *semua orang juga mau kali Luk :") wkwk

Tapi yakan balik lagi, Tawakkal sama Alloh, berserah diri kepada-Nya.
Yang penting jangan sampe kerja kayak kuda gada berkah-berkahnya :((

Aku teringat seorang pernah berkata, Jangan letakkan uang (materi) itu di dalam hati, namun letakkan harta itu ditangan.
Aku memaknai nasihat ini, kalau harta ditaruk di hati, kita akan menganggap harta itu segalanya, akan susah buat mengeluarkannya, dan kalo kehilangan pasti rasanya akan sakit sekali. Tapi kalo harta diletakkan di tangan, Insyaa Alloh kalopun kita kehilangan, kita tidak akan begitu kecewa, dan ini menjadi sebuah nasihat agar kita mudah bersedekah.

Secara garis besar, aku memahami konsep rezeki itu ada 2:
Kalau ibu bilang, Kalau banyak bermanfaat, kalau sedikit merasa cukup.
Kalau Ustadz Andre bilang, rezeki itu kalo banyak tidak jadi bahaya, kalau sedikit rasanya cukup.

Deep. and i will try to always remember :")

Begitupun dengan pernikahan.
Mungkin dulu ada kali ya hawa nafsu membara ingin cepet-cepet menikah, karena terpapar informasi bahwa menikah muda akan hidup enak nikmat seperti princess, tapi ternyataa, Alloh belum pertemukan jodohnya juga. Hhihi
Tapi ya nggak papa, malah akhirnya, ketemu sama banyak Ustadz, dan orang-orang inspiratif yang banyak banget ngasih nasihat tentang pernikahan.
Jadi nggak ada tuh yang namanya galau-galau kebelet nikah, bener-bener sekarang malah lagi semangat-semangat nya memperbanyak ilmu (ilmu yang lurus ya, bukan buat baper-baperan apalagi membuat bucin)
Kayak misalnya di dalam bukunya mbak Apik itu dijelaskan bagaimana laki-laki dan perempuan tuh punya pandangan terhadap sesuatu yang istimewa itu berbeda, atau dalam tulisan mas Gun yang bilang bahwa sebelum menikah, kita tuh harus tahu value apa yang penting untuk diri kita yang harus ditanyakan kepada pasangan dan itu HARUS sudah beres sebelum menikah. Atau nasihat Ustadz Ransi tentang betapa pentingnya dalam rumah tangga untuk fokus memberi dan bukan menuntut hak.
Terdengar remeh memang, tapi mungkin ketika aku nggak belajar, nggak membaca buku mbak Apik, nggak baca IG nya mas Gun, nggak ndengerin kajian Ustadz Ransi, aku nggak akan pernah tahu :")

Dan semua pembelajaran ini, aku dapatkan justru disaat aku terhimpit rasa gelisah, disaat semua target hidup tidak berjalan sesuai rencana, tapi Alloh berikan obat dengan sebuah kesempatan belajar dan muhasabah diri seluas-luasnya.

Guys, Kita tuh masih punyak banyak sekali waktu dan kesempatan buat  menyiapkan segalanya. Kalo sekarang kita belum sidang, belum wisuda, nggak papa, kita punya kesempatan buat mikir rencana kedepan mau ngapain. Ketika kita belum kerja, masih proses mencari kerja, nggak papa, setidaknya saat ini kita punya lebih banyak waktu luang, punya banyak waktu untuk memikirkan dan mencari tahu hal apa yang bener-bener pengen kita kerjakan nantinya. Kalo kita belum nikah dan punya anak, nggak papa, kita punya kesempatan seluas-luasnya untuk berdoa sama Alloh, minta dipertemukan sama jodoh terbaik, punya banyak waktu, kesempatan, buat belajar, nambah ilmu, nyari tahu soal pernikahan, menyiapkan diri, berbenah. kita punya kesempatan itu. Kita masih punya banyak pilihan, dan kita bisa menabung Doa, terus mengetuk pintu-pintu langit dengan cara terbaik


Jadi nggak papa kalo banyak target hidup mu yang tak sesuai rencana, 
You have a lot of chance to learn.

Kita punya banyak banget kesempatan untuk belajar, nyari tahu, bertaubat, ikhtiar dengan ikhtiar terbaik sampai nge-pepet Alloh dengan Doa-doa.

Selalu ada hikmah yang Alloh beri disetiap peristiwa.
Resah, sedih, kecewa atas harapan dan Doa yang belum Alloh beri, boleh-boleh saja, tapi sebentar aja ya. Baik kiranya kita lebih memperbanyak sabar, karena ada buanyak sekali nikmat yang Alloh kasih yang seharusnya menjadi fokus kita untuk bersyukur. 

Untuk siapapun yang hari ini sedang merasa gelisah dengan hidupnya, semoga Alloh berikan ketenangan batin untukmu, dan segera Alloh berikan jawaban atas segala keresahan hatimu. Aamiin, Amiin Yaa Rabbal Alamin.
Tetep semangat berjuang, dan jangan capek berdoa ya! :))

Memaafkan

Friday, August 2, 2019

Bagi orang sepertiku, memaafkan merupakan pekerjaan sulit yang membutuhkan extra kerja keras.
Meskipun tampak mudah bergaul dengan banyak orang, mudah tertawa dan suka bercanda, tapi aku tipikal orang yang nggak bisa dibuat kecewa.

Nggak terima kalau ada yang bohong disaat aku memberi kepercayaan sepenuhnya,
nggak terima kalau perlakuan baik ku dibalas dengan sikap yang menyakiti 
nggak terima kalau disaat aku susah, orang yang aku anggap teman baik, teman dekat malah gak peduli

pokoknya nggak terima orang yang aku anggap baik dan aku percaya banget bikin kecewa.

Sampai pada akhirnya aku mulai merenungi banyak hal.

Bahkan sampai pada pemikiran "Oh mungkin kalau aku sakit hati sekarang, di masa lalu, aku juga pernah nyakitin orang lain.
"Oh mungkin kalau aku dijahatin sama orang, dulu aku juga pernah jahat sama orang."

Aku berusaha untuk tidak menyalahkan orang lain, lebih baik aku intropeksi diri ku sendiri
Aku mencoba berkaca, bahwa akupun pernah salah dan nggak sempurna, lantas bukankah orang lain juga demikian ?

Sekuat tenaga aku berusaha belajar memaafkan.
Ada salah satu ceramah Ustadz yang mengatakan bahwa salah satu tanda amalan diterima adalah hatinya penuh cinta. Dan salah satu bentuk nya adalah cinta kepada sesama makhluk, seperti ringan memaafkan (Ini link kajian nya)
Lagi-lagi aku dibuat beripikir.
"Ya Alloh, aku juga ingin menjadi salah satu hamba yang amalan nya Engkau terima"

Dan . .
Suatu hari . .
Hatiku tergerak buat contac salah satu teman yang udah 5 tahun kita putus silaturrahmi.
(intinya)
"X, kapan balik Solo ? Kalau balik Solo kabarin ya, pengen menjalin silaturrahmi kembali."

Walopun belum ketemu juga karena belum dikabarin, tapi aku cukup seneng sih. Ternyata aku bisa kok. Haha
Padahal aku adalah tipikal orang yang sekali dikecewain, selanjutnya bye. aku tak peduli
wkwk (gaboleh ditiru yaa)

Sebenernya salah satu alasan kenapa aku susah banget maafin orang adalah, karena orang-orang yang bikin aku kecewa ini nggak pernah berusaha minta maaf dengan serius.
mereka justru lari, menganggap tidak terjadi apa-apa dan berharap waktu akan melenyapkan segalanya.

Dan aku nggak bisa terima itu, kenapa ?
Karena aku bukan orang yang kayak gitu. Which is "aku salah, aku akan dengan senang hati minta maaf"
Ya kalo nggak ngrasa salah ogah sih minta maaf. wkwk #teteupya
Jadi, karena aku bukan orang yang gengsi-gengsi amat buat minta maaf ketika aku salah, ketika ada orang lain salah sama aku kok gamau minta maaf ya mohon maaf aku tidak ingin diperlakukan demikian.
Yaa kecuali kalo salahnya remeh-remeh mah aku juga nggak sejahat itu buat gamau maafin.
"kecewa" itu tadi loo point nya.
dan aku sadar sih, kekecewaan itu bermula karena kita yang "terlalu" berekspektasi dengan orang lain. Entah itu terlalu percaya, entah itu terlalu memberi penilaian dirinya baik.
Maka pantas lah, jika kepercayaan yang lebih itu disandarkan hanya pada Alloh taala saja.
Karena Alloh nggak akan bikin kecewa,
Manusia kerjaan nya bikin kecewa, saqiit shaay

Intinya,
Melalui tulisan ini aku ingin bercerita tentang diriku sendiri.
Bukan untuk menjelaskan kepada siapapun, karena aku yakin kalian pun tidak akan peduli.
Yaa sekadar menumpahkan isi kepala saja. wkwk

Aku ini manusia biasa.
nggak sempurna, dan mungkin masih jauh dari baik
Bagiku, menjadi perempuan yang hatinya lapang penuh maaf itu pekerjaan sulit.
Bukan karena aku tidak mau, tapi mungkin rasa kecewaku kadang terlalu besar
Aku bukan orang yang nggak bisa memaafkan kok. Kadang mungkin perlu waktu, meski mungkin tidak sebentar
Akupun menyadari bahwa memafkan sebenarnya berdamai dengan diriku sendiri
Tapi balik lagi, inilah ketidaksempurnaan diriku :')
Bukan aku nggak berusaha, tapi biarlah usaha ini aku dan Alloh saja yang tahu.

Jadi teruntuk kamu, dan siapapun temanku diluar sana yang mungkin hubungan kita kurang baik,
Bukan aku tidak mau memaafkan. Tapi bukankah kamu tahu "kekurangan" ku ini ?
Lantas mengapa, kaupun lebih suka menenggelamkan waktu dan menjadikan kekuranganku ini sebagai alasan ?
:)

Makanan Halal. Pentingkah ?

Monday, July 22, 2019

Kemarin sempet rada-rada heboh tentang makanan babi dan pernyataan seorang pemilik resto babi di Jakarta. Aku nggak mau bahas itu si, tapi lebih pengen sedikit memberikan pandangan, kenapa sih makanan Halal itu penting banget buat Muslim ? (Ini opini pribadi ya, subjektif)

Aku teringat. Ramadan kemarin, aku sama ibu aku pergi ke salah satu mall di Solo. Sewaktu pulang, aku sama ibu pengen beli roti di br*******
Waktu itu aku santai aja sih, soanya kita juga sering kok beli disana.
Tapi ibu aku bilang "Halal nggak ini rotinya, tanya sek"
"Halah halal mosok nggak halal ?"
Akhirnya aku nanya
Jujur aku rada kagok. Malah kesrimpet-srimpet nanya nya. Mikirnya ini kan di Indonesia, di Solo pula. Yang beli yang berhijab banyak, masak kalo nggak halal nggak dikasi tau.
Tapi karena disuruh ibu, jadi oke baik, akupun nanya
'Mba itu rotinya halal ?'
'Oh iya mba halal'

Alhamdulillah. Wkwk
Mungkin terkesan kek rada lebay, tapi aseliiikkk rasanya legaaa banget :")

Terus pas kapan gitu aku cerita sama salah satu temen.
Pakek bercanda.
'Kemarin aku ke br******* sama ibu aku, masak aku disuruh nanya halal apa nggak. Ya bagus sih, tapi wkwkwk . . .'

'Wkwk. Ih ya gapapa. Mamaku sering juga kok nanya gitu'

DEG.

"Oh ya ?"

Beberapa saat setelah itu aku merenung.

Ya Alloh, segini nya loo orang tua kita ngejagain kita supaya makanan yang kita makan, yang masuk ke mulut kita adalah makanan halal, makanan yang baik yang di ridhoi Alloh, la apa kabar kita yang kadang suka nongki-nongki sembarangan jajan sembarangan yang kadang kita ragu sama kehalalan nya tapi tetep aja dimakan :((

Kemudian aku intropeksi diri.
'Duh apa karena banyak makanan yang gak halal yang masuk ke mulutku, ditambah dosa yang segunung-gunung ini yang bikin doa-doa ku ndak dikabulin Alloh ya ..."

Mari berpikir, "kenapa makanan halal itu penting?"

Pertama, Alloh memberikan aturan itu pasti akan selalu ada alasannya. Selalu ada hikhmah yang baik untuk ummatnya. Misalnya, kita tahu secara ilmiah kenapa kita ndak boleh makan  A, B, C, dari sisi kesehatan, dll

Kedua, Salah satu faktor terkabulnya Doa adalah makanan yang kita makan haruslah makanan yang halal.
Ini yang paling bikin mikir sihhhh.
Dan makanan nggak halal itu gacuma *mohon maaf babi, anjing, tapi ada banyak.
Dari cara mendapatkan nya, tempatnya, bahkan 'pemberian dari siapa' setahuku juga ada aturannya.
Selain itu, Alloh juga memerintahkan meninggalkan hal-hal yang bersifat syubhat (samar/rancu)
Sangking Alloh ngejaga banget nih, bahkan tata cara penyembelihan hewan saja ada aturannya. Seperti wajib menyebut nama Alloh dan dilarang menyebut nama selain Alloh (mungkin bisa dikoreksi kalo salah yaa)
Dan lain sebagainya . .

So, ketika ada manusia bilang 'makan itu hak asasi. Halal haram urusan mu dengan Tuhan'
Aku menghela nafas.
Ada banyak kebaikan yang bisa kita petik dari aturan-aturan yang Alloh kasih. Tapi kokya susah bener mau nurut.
Lagian, berapa sih yang Alloh larang dibandingkan yang diperbolehkan ?

Mari merenung (lagi):)

Btw aku juga punya temen yang dulu pernah beli salah satu bakpia di Solo. Dia gatau itu haram. Pas ke-2 kali kesana penjual nya bilang "mbak maaf yang lain aja ya. Yang ini nggak halal."
Disitu temenku kaget 'Loh mbak dulu aku pernah beli disini kok nggak dikasi tau kalo nggak halal'

Disinilah aku belajar, ternyata mengandalkan visual ketika 'itu yang berhijab makan disana kok' itu ndak cukup :" apalagi yang hanya katanya katanya.
Lebih hati-hati dan extra hati-hati dan berusaha menanamkan ke diri buat ndak malu nanya 'ini halal ndak ?' ke hal-hal yang sifatnya syubhat. Gacuma nanya, kadang godaannya adalah 'kepengen'
Apalagi makanan hits dan unik. Tapi halal haramnya kita nggak tahu atau ragu-ragu.
Godaan emang :(

Susah sih, tapi mudah-mudahan kita bisa yaa lebih berhati-hati, lebih kenceng iman, dan lebih yakin sama aturan-Nya Alloh. Aamiin 💪😇

Memastikan makanan yang halal masuk ke dalam tubuh kita, bukan lagi soal hak asasi manusia.
Kita orang beriman pasti mikir nggak cuma soal kenyang dan enak. Tapi berkah, keberkahan lah yang menjadikan nya nikmat, dan nanti nya Alloh yang bakal kasih banyak kebaikan di dalamnya. 😉
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS